Secara garis besar, bangsa-bangsa sapi (Bos) yang terdapat
di dunia ada dua, yaitu (1) kelompok yang berasal dari sapi Zebu (Bos indicus)
atau jenis sapi yang berpunuk, yang berasal dan tersebar di daerah tropis serta
(2) kelompok dari Bos primigenius, yang tersebar di daerah sub tropis atau
lebih dikenal dengan Bos Taurus.
Jenis sapi perah yang unggul dan paling banyak dipelihara
adalah sapi Shorhorn (dari Inggris), Friesian Holstein (dari Belanda), Yersey
(dari selat Channel antara Inggris dan Perancis), Brown Swiss (dari
Switzerland), Red Danish (dari Denmark) dan Droughtmaster (dari Australia).
Hasil survei di PSPB Cibinong menunjukkan bahwa jenis sapi perah yang paling
cocok dan menguntungkan untuk dibudidayakan di Indonesia adalah Frisien Holstein.
MANFAAT
Peternakan sapi menghasilkan daging sebagai sumber protein,
susu, kulit yang dimanfaatkan untuk industri dan pupuk kandang sebagai salah
satu sumber organik lahan pertanian.
PERSYARATAN LOKASI
Lokasi yang ideal untuk membangun kandang adalah daerah yang
letaknya cukup jauh dari pemukiman penduduk tetapi mudah dicapai oleh
kendaraan. Kandang harus terpisah dari rumah tinggal dengan jarak minimal 10
meter dan sinar matahari harus dapat menembus pelataran kandang serta dekat
dengan lahan pertanian. Pembuatannya dapat dilakukan secara berkelompok di
tengah sawah atau ladang.
PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
* Penyiapan Sarana
dan Peralatan
Kandang dapat dibuat dalam bentuk ganda atau tunggal,
tergantung dari jumlah sapi yang dimiliki. Pada kandang tipe tunggal,
penempatan sapi dilakukan pada satu baris atau satu jajaran, sementara kandang
yang bertipe ganda penempatannya dilakukan pada dua jajaran yang saling
berhadapan atau saling bertolak belakang. Diantara kedua jajaran tersebut
biasanya dibuat jalur untuk jalan.
Pembuatan kandang untuk tujuan penggemukan (kereman)
biasanya berbentuk tunggal apabila kapasitas ternak yang dipelihara hanya
sedikit. Namun, apabila kegiatan penggemukan sapi ditujukan untuk komersial,
ukuran kandang harus lebih luas dan lebih besar sehingga dapat menampung jumlah
sapi yang lebih banyak. Lantai kandang harus diusahakan tetap bersih guna
mencegah timbulnya berbagai penyakit. Lantai terbuat dari tanah padat atau
semen, dan mudah dibersihkan dari kotoran sapi. Lantai tanah dialasi dengan
jerami kering sebagai alas kandang yang hangat.
Seluruh bagian kandang dan peralatan yang pernah dipakai
harus disuci hamakan terlebih dahulu dengan desinfektan, seperti creolin,
lysol, dan bahan-bahan lainnya. Ukuran kandang yang dibuat untuk seekor sapi
jantan dewasa adalah 1,5×2 m atau 2,5×2 m, sedangkan untuk sapi betina dewasa
adalah 1,8×2 m dan untuk anak sapi cukup 1,5×1 m per ekor, dengan tinggi atas +
2-2,5 m dari tanah. Temperatur di sekitar kandang 25-40 oC
(rata-rata 33 oC) dan
kelembaban 75%. Lokasi pemeliharaan
dapat dilakukan pada dataran rendah (100-500 m) hingga dataran tinggi (> 500
m).
6.2. Pembibitan
Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh bibit sapi perah
betina dewasa adalah:
produksi
susu tinggi,
umur
3,5-4,5 tahun dan sudah pernah beranak,
berasal
dari induk dan pejantan yang mempunyai keturunan produksi susu tinggi,
bentuk
tubuhnya seperti baji,
matanya
bercahaya, punggung lurus, bentuk kepala baik, jarak kaki depan atau kaki
belakang cukup lebar serta kaki kuat,
ambing
cukup besar, pertautan pada tubuh cukup baik, apabila diraba lunak, kulit
halus, vena susu banyak, panjang dan berkelok-kelok, puting susu tidak
lebih dari 4, terletak dalam segi empat yang simetris dan tidak terlalu
pendek,
tubuh
sehat dan bukan sebagai pembawa penyakit menular, dan
tiap
tahun beranak.
Sementara calon induk yang baik antara lain:
berasal
dari induk yang menghasilkan air susu tinggi,
kepala
dan leher sedikit panjang, pundak tajam, badan cukup panjang, punggung dan
pinggul rata, dada dalam dan pinggul lebar,
jarak
antara kedua kaki belakang dan kedua kaki depan cukup lebar,
pertumbuhan
ambing dan puting baik,
jumlah
puting tidak lebih dari 4 dan letaknya simetris, serta
sehat
dan tidak cacat.
Pejantan yang baik harus memenuhi kriteria sebagai berikut:
umur
sekitar 4-5 tahun,
memiliki
kesuburan tinggi,
daya
menurunkan sifat produksi yang tinggi kepada anak-anaknya,
berasal
dari induk dan pejantan yang baik,
besar
badannya sesuai dengan umur, kuat, dan mempunyai sifat-sifat pejantan yang
baik,
kepala
lebar, leher besar, pinggang lebar, punggung kuat,
muka
sedikit panjang, pundak sedikit tajam dan lebar,
paha
rata dan cukup terpisah,
dada
lebar dan jarak antara tulang rusuknya cukup lebar,
badan
panjang, dada dalam, lingkar dada dan lingkar perut besar, serta
sehat,
bebas dari penyakit menular dan tidak menurunkan cacat pada keturunannya.
Prosedur:
Pemilihan
Bibit dan Calon Induk
Untuk mengejar produktivitas ternak yang tinggi, diperlukan perbaikan
lingkungan hidup dan peningkatan mutu genetik ternak yang bersangkutan.
Bibit yang baru datang harus dikarantina untuk penularan penyakit.
Kemudian bibit diberi minum air yang dicampur garam dapur, ditempatkan
dalam kandang yang bersih dan ditimbang serta dicatat penampilannya.
Perawatan
Bibit dan Calon Induk
Seluruh sapi perah dara yang belum menunjukkan tanda-tanda birahi atau
belum bunting setelah suatu periode tertentu, harus disisihkan. Jika sapi
yang disisihkan tersebut telah menghasilkan susu, sapi diseleksi kembali
berdasarkan produksi susunya, kecenderungan terkena radang ambing dan
temperamennya.
Sistim
Pemuliabiakan
Seringkali sapi perah dara dikawinkan dengan pejantan pedaging untuk
mengurangi risiko kesulitan lahir dan baru setelah menghasilkan anak satu
dikawinkan dengan pejantan sapi perah pilihan. Bibit harus diberi
kesempatan untuk bergerak aktif paling tidak 2 jam setiap hari.
6.3. Pemeliharaan
Sanitasi
dan Tindakan Preventif
Pada pemeliharaan secara intensif sapi-sapi dikandangkan sehingga peternak
mudah mengawasinya, sementara pemeliharaan secara ekstensif pengawasannya
sulit dilakukan karena sapi-sapi yang dipelihara dibiarkan hidup bebas.
Sapi perah yang dipelihara dalam naungan (ruangan) memiliki konsepsi
produksi yang lebih tinggi (19%) dan produksi susunya 11% lebih banyak
daripada tanpa naungan. Bibit yang sakit segera diobati karena dan bibit
yang menjelang beranak dikering kandangkan selama 1-2 bulan.
Perawatan
Ternak
Ternak dimandikan 2 hari sekali. Seluruh sapi induk dimandikan setiap hari
setelah kandang dibersihkan dan sebelum pemerahan susu. Kandang harus
dibersihkan setiap hari, kotoran kandang ditempatkan pada penampungan
khusus sehingga dapat diolah menjadi pupuk. Setelah kandang dibersihkan,
sebaiknya lantainya diberi tilam sebagai alas lantai yang umumnya terbuat
dari jerami atau sisa-sisa pakan hijauan (seminggu sekali tilam tersebut
harus dibongkar). Penimbangan dilakukan sejak sapi pedet hingga usia
dewasa. Sapi pedet ditimbang seminggu sekali sementara sapi dewasa
ditimbang setiap bulan atau 3 bulan sekali. Sapi yang baru disapih
ditimbang sebulan sekali. Sapi dewasa dapat ditimbang dengan melakukan
taksiran pengukuran berdasarkan lingkar dan lebar dada, panjang badan dan
tinggi pundak.
Pemberian
Pakan
Pemberian pakan pada sapi dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu:
sistem
penggembalaan (pasture fattening)
kereman
(dry lot fattening)
kombinasi
cara pertama dan kedua.
Pakan yang diberikan berupa hijauan dan konsentrat. Hijauan yang berupa
jerami padi, pucuk daun tebu, lamtoro, alfalfa, rumput gajah, rumput
benggala atau rumput raja. Hijauan diberikan siang hari setelah pemerahan
sebanyak 30-50 kg/ekor/hari. Pakan berupa rumput bagi sapi dewasa
umumnya diberikan sebanyak 10% dari bobot badan (BB) dan pakan tambahan
sebanyak 1-2% dari BB. Sapi yang sedang menyusui (laktasi) memerlukan
makanan tambahan sebesar 25% hijauan dan konsentrat dalam ransumnya.
Hijauan yang berupa rumput segar sebaiknya ditambah dengan jenis
kacang-kacangan (legum).
Sumber karbohidrat berupa dedak halus atau bekatul, ampas tahu, gaplek,
dan bungkil kelapa serta mineral (sebagai penguat) yang berupa garam dapur,
kapur, dll. Pemberian pakan konsentrat sebaiknya diberikan pada pagi hari
dan sore hari sebelum sapi diperah sebanyak 1-2 kg/ekor/hari. Selain
makanan, sapi harus diberi air minum sebanyak 10% dari berat badan per
hari.
Pemeliharaan utama adalah pemberian pakan yang cukup dan berkualitas,
serta menjaga kebersihan kandang dan kesehatan ternak yang dipelihara.
Pemberian pakan secara kereman dikombinasikan dengan penggembalaan Di awal
musim kemarau, setiap hari sapi digembalakan. Di musim hujan sapi
dikandangkan dan pakan diberikan menurut jatah. Penggembalaan bertujuan
pula untuk memberi kesempatan bergerak pada sapi guna memperkuat kakinya.
Pemeliharaan
Kandang
Kotoran ditimbun di tempat lain agar mengalami proses fermentasi (+1-2minggu)
dan berubah menjadi pupuk kandang yang sudah matang dan baik. Kandang sapi
tidak boleh tertutup rapat (agak terbuka) agar sirkulasi udara didalamnya
berjalan lancar. Air minum yang bersih harus tersedia setiap saat. Tempat
pakan dan minum sebaiknya dibuat di luar kandang tetapi masih di bawah
atap. Tempat pakan dibuat agak lebih tinggi agar pakan yang diberikan
tidak diinjak-injak atau tercampur dengan kotoran. Sementara tempat air
minum sebaiknya dibuat permanen berupa bak semen dan sedikit lebih tinggi
daripada permukaan lantai. Sediakan pula peralatan untuk memandikan sapi.
7. HAMA DAN PENYAKIT
7.1. Penyakit
Penyakit
antraks
Penyebab:
Bacillus anthracis yang menular melalui kontak langsung, makanan/minuman
atau pernafasan.
Gejala:
demam
tinggi, badan lemah dan gemetar;
gangguan
pernafasan;
pembengkakan
pada kelenjar dada, leher, alat kelamin dan badan penuh bisul;
kadang-kadang
darah berwarna merah hitam yang keluar melalui hidung, telinga, mulut,
anus dan vagina;
kotoran
ternak cair dan sering bercampur darah;
limpa
bengkak dan berwarna kehitaman.
Pengendalian:
vaksinasi, pengobatan antibiotika,
mengisolasi sapi yang terinfeksi serta mengubur/membakar sapi yang mati.
Penyakit
mulut dan kuku (PMK) atau penyakit Apthae epizootica (AE)
Penyebab:
virus ini menular melalui kontak langsung melalui air kencing, air susu,
air liur dan benda lain yang tercemar kuman AE.
Gejala:
rongga
mulut, lidah, dan telapak kaki atau tracak melepuh serta terdapat
tonjolan bulat berisi cairan yang bening;
demam
atau panas, suhu badan menurun drastis;
nafsu
makan menurun bahkan tidak mau makan sama sekali;
air
liur keluar berlebihan.
Pengendalian:
vaksinasi dan sapi yang sakit diasingkan dan diobati secara terpisah.
Penyakit
ngorok/mendekur atau penyakit Septichaema epizootica (SE)
Penyebab:
bakteri Pasturella multocida. Penularannya melalui makanan dan minuman
yang tercemar bakteri.
Gejala:
kulit
kepala dan selaput lendir lidah membengkak, berwarna merah dan kebiruan;
leher,
anus, dan vulva membengkak;
paru-paru
meradang, selaput lendir usus dan perut masam dan berwarna merah tua;
demam
dan sulit bernafas sehingga mirip orang yang ngorok. Dalam keadaan
sangat parah, sapi akan mati dalam waktu antara 12-36 jam.
Pengendalian:
vaksinasi anti SE dan diberi antibiotika atau sulfa.
Penyakit
radang kuku atau kuku busuk (foot rot)
Penyakit
ini menyerang sapi yang dipelihara dalam kandang yang basah dan kotor.
Gejala:
mula-mula
sekitar celah kuku bengkak dan mengeluarkan cairan putih keruh;
kulit
kuku mengelupas;
tumbuh
benjolan yang menimbulkan rasa sakit;
sapi
pincang dan akhirnya bisa lumpuh.
7.2. Pencegahan Serangan
Upaya pencegahan dan pengobatannya dilakukan dengan memotong
kuku dan merendam bagian yang sakit dalam larutan refanol selama 30 menit yang
diulangi seminggu sekali serta menempatkan sapi dalam kandang yang bersih dan
kering.
8. PANEN
8.1. Hasil Utama
Hasil utama dari budidaya sapi perah adalah susu yang
dihasilkan oleh induk betina.
8.2. Hasil Tambahan
Selain susu sapi perah juga memberikan hasil lain yaitu
daging dan kulit yang berasal dari sapi yang sudah tidak produktif serta pupuk
kandang yang dihasilkan dari kotoran ternak.
9. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA
9.1. Analisis Usaha Budidaya
Usaha ternak sapi perah di Indonesia masih bersifat
subsisten oleh peternak kecil dan belum mencapai usaha yang berorientasi
ekonomi. Rendahnya tingkat produktivitas ternak tersebut lebih disebabkan oleh
kurangnya modal, serta pengetahuan/ketrampilan petani yang mencakup aspek
reproduksi, pemberian pakan, pengelolaan hasil pascapanen, penerapan sistem
recording, pemerahan, sanitasi dan pencegahan penyakit. Selain itu pengetahuan
petani mengenai aspek tata niaga harus ditingkatkan sehingga keuntungan yang
diperoleh sebanding dengan pemeliharaannya. Produksi susu sapi di dunia kini
sudah melebihi 385 juta m2/ton/th dengan tingkat penjualan sapi dan produknya
yang lebih besar daripada pedet, pejantan, dan sapi afkiran. Di Amerika
Serikat, tingkat penjualan dan pembelian sapi dan produknya secara tunai
mencapai 13% dari seluruh peternakan yang ada di dunia. Sementara tingkat
penjualan anak sapi (pedet), pejantan sapi perah, dan sapi afkir hanya berkisar
3%. Produksi susu sejumlah itu masih perlu ditingkatkan seiring dengan
peningkatan jumlah penduduk di dunia ini. Untuk mencapai tingkat produksi yang tinggi
maka pengelolaan dan pemberian pakan harus benar-benar sesuai dengan kebutuhan
ternak, dimana minimum pakan yang dapat dimanfaatkan oleh ternak (terserap)
diusahakan sekitar 3,5-4% dari bahan kering
9.2. Gambaran Peluang Agribisnis
Usaha peternakan sapi perah keluarga memberikan keuntungan
jika jumlah sapi yang dipelihara minimal sebanyak 6 ekor, walaupun tingkat
efisiensinya dapat dicapai dengan minimal pengusahaannya sebanyak 2 ekor dengan
rata-rata produksi susu sebanyak 15 lt/hari. Upaya untuk meningkatkan
pendapatan petani melalui pembudidayaan sapi perah tersebut dapat juga
dilakukan dengan melakukan diversifikasi usaha. Selain itu melakukan upaya
kooperatif dan integratif (horizontal dan vertikal) dengan petani lainnya dan
instansi-instansi lain yang berkompeten, serta tetap memantapkan pola PIR
diatas.
Laju pertambahan penduduk yang terus meningkat menuntut ketersediaan akan
daging yang terus meningkat pula. Sehubungan dengan hal tersebut, ternak sapi
khususnya sapi potong merupakn salah satu sumber daya penghasil bahan makanan
berupa daging yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan penting artinya di dalam
kehidupan masyarakat. Sebab sektor atau kelompopk ternak sapi bisa menghasilkan
berbagai macam kebutuhan, terutama sebagai bahan makanan berupa daging, disamping
hasil ikutan lainnya seperti pupuk kandang, kulit, tulang dan lain sebagainya.
Daging sangat besar manfaatnya bagi pemenuhan gizi berupa protein hewani.
Sapi sebgai salah satu hewan pemakan rumput sangat berperan sebagai pengumpul
bahan bergizi rendah yang dirubah menjadi bahan bergizi tinggi, kemudian
diteruskan kepada manusia dalam bentuk daging. Daging untuk pemenuhan gizi
mulai meningkat dengan adanya istilah ”Balita” dan terangkatnya peranan gizi
terhadap kualitas generasi penerus.
Jadi untuk pemenuhan kebutuhan protein hewani dari daging ini kita khhususnya
peternak perlu meningkatkan [roduksi daging. Perkembangan usaha penggemukan
sapi didorong oleh permintaan daging yang terus menerus meningkat dari tahun ke
tahun.
II. MEMILIH JENIS SAPI
Sapi-sapi lokal yang terdapat di Propinsi Banten kesemuanya dapat digunakan untuk
usaha penggemukan. Akan tetapi tidaklah semua jenis sapi itu mempunyai prospek
yang sama untuk digemukkan. Ada beberapa indikator yang dapat digunakan untuk
menentukan jenis sapi yang lebih prospektif untuk digemukkan.
Indikator-indikator tersebut adalah :
v Jumlah populasi
v Jumlah pertambahan populasi setiap tahun
v Penyebaran
v Produksi karkas dan
v Efisiensi penggunaan pakan
Jenis-jenis sapi potong yang biasa dipelihara adalah : sapi Bali, sapi Madura,
sapi Ongole, sapi Peranakan ongole, sapi Charolois, sapi Hereford, sapi Brangus
dan lain-lain.
dipelihara masyarakat
III. PEMELIHARAAN DAN UKURAN KANDANG
Dibandingkan dengan kandang sapi milik petani di Eropa, maka kandang sapi
petani-petani di Propinsi Banten walaupun hanya terdiri dari tiang bambu, atap rumbia
dan lantai yang dipadatkan, tetapi cukup baik. Ini disebabkan karena petani di
Propinsi Banten hanya memilik sapi antara 3-4 ekor, dimana sapi-sapi tersebut
hanya pada malam hari saja dipelihara dalam kandang, sedang pada siang hari
ternak diikat di halaman rumah karena tidak dikerjakan atau digembalakan.
Setiap pagi bilamana sapi sudah dikeluarkan, maka kotoran dalam kandang
dibersihkan bersama-sama sisa makanan diangkut dan dimasukkan ke dalam lubang
yang telah disediakan, untuk kemudian dijadikan pupuk, sedang bekas-bekas urine
disiram dengan abu dari api unggun. Tentang tempat makanan untuk ternak petani
di Propinsi Banten tidak membutuhkan perlengkapan, oleh karena makanan yang
diberikan adalah rumput, daun-daunan dan jerami, tidak pernah dan jarang sekali
diberikan makanan konsetrat, kecuali sapi-sapi yang digemukkan. Makanan cukup
diletakkan di tanah, bila perlu dibatasi dengan palang-palang dari bambu atau
kayu.
Kandang untuk sapi potong hendaknya dibuat dari bahan-bahan yang murah tapi
kuat, keadaannya harus terang dan pertukaran udara bebas. Atap dari
genting/rumbia/ilalang. Lantai sebaiknya disemen atau sekurang-kurangnya tanah
dipadatkan.
IV. MAKANAN
Sapi-sapi petani di Propinsi Banten diberi makan rumput, daun-daunan atau
jerami. Umumnnya secara kualitas maupun kuantitas makanan sapi-sapi itu cukup
baik. Ini dapat dilihat dari keadaan sapi-sapinya yang cukup segar, gemuk dan
kesehatan baik.
Bila dipandang perli petani di Propinsi Banten menyediakan makanan untuk musim
kemarau. Biasanya petani menyimpan jerami, penyimpanan makanan ini tidak perlu
banyak karena ternak yang dipelihara hanya sebanyak 3-4 ekor.
Pakan untuk sapi potong dapat dikelompokkan menjadi :
a. Hijauan
Hijauan yang berkualitas baik (rumput unggul atau campuran rumput dengan
hijauan kacang-kacangan) umumnya sudah dapat memenuhi kebutuhan hidup pokok,
pertunbuhan dan reproduksi yang normal sehingga pada pemeliharaan sapi dianjurkan
lebih banyak menggunakan hijauan (85-100%), apabila hijauan banyak tersedia,
pemberian konsentrat hanya dianjurkan untuk keadaan tertentu saja seperti saat
sulit hijauan (di musim kemarau) atau untuk penggemukkan.
Contoh hijauan unggul :
v Rumput setaria
v Rumput gajah (Pennisetum purpureum)
v Rumput raja (Kinggrass)
v Rumput benggala (Panicum maximum)
v Rumput bede (Brachiaria decumbens)
v Lamtorogun(Leucaena leucocepala)
v Turi (Sesbania grandiflora)
v Gamal (Gliricidia maculata)
v Kaliandra
Contoh hijauan limbah pertanian :
v Jerami kacang panjang
v Jerami kedelai
v Jerami padi
v Jerami jagung
b. Konsentrat
Contoh konsentrat :
v Dedak padi
v Onggok (ampas singkong)
v Ampas tahu
v Dan lain-lain
c. Makanan tambahan
Contoh : vitamin,
mineral dan urea
Secara umum makanan untuk seekor sapi setiap hari sebagai berikut :
- Hijauan :35-47 kg atau bervariasi menurut berat dan besar badan
- Konsentrat : 2-5 kg
- Makanan tambahan : 30-50 gram
V. KESEHATAN
Salah satu unsur perawatan yang juga tidak boleh diabaikan adalaj penjagaan
kesehatan termasuk pula pencegahan masuknya penyakit ke peternakan.
Berbagai jenis penyakit pada sapi yang sering berjangkit baik yang menular
ataupun yang tidak menular. Penyakit menular yang terjangkit pada umumnya
menimbulkan kerugian besar bagi peternak dari tahun ke tahun ribuan ternak sapi
menjadi korban penyakit radang limpa (Anthrax), ribuan ternak sapi lainnya
kemudian terkena serangan penyakit mulut dan kuku, serta penyakit surra.
Beberapa jenis penyakit yang sering terjadi pada sapi potong adalah :
a. Anthrax
(radang limpa)
b. Penyakit mulut dan kuku
c. Penyakit surra
d. Penyakit radang paha
e. Penyakit Bruccellosis (keguguran menular)
f. Kuku busuk (foot
ror)
g. Cacing hati
h. Cacing perut
i. Dan lain-lain
VI. PERKEMBANGBIAKAN
Pada usaha ternak sapi potong yang sistem produksinya untuk menghasilkan
anak-anak sapi yang hampir sama umurnya dalam jumlah yang besar untuk dijual
sebagai anak sapi (Feeder
Cattle), maka perkawinannya dilakukan secara musiman
Sapi potong mulai dewasa kelamin yaitu apabila mulai timbul oestrus
(tanda-tanda birahi, bronst). Pada umur 8-12 bulan, tergantung pada
bangsa-bangsa, makanan, dan lingkungannya.
Cara perkawinan pada sapi potong dapat dilakukan dengan pengaturan dan
pengawasan sepenuhnya ooleh manusia yang disebut cara ”Hand Mating” yaitu
pemeliharaan jantan dan betina dipisah dan bila ada betina yang bronst,
diambilkan pejantanya agar mengawininya atau dilakukan perkawinan buatan atau
dengan cara perkawinan bebas di padang rumput. Dimana sapi-sapi jantan dan
betina yang sudah dewasa pada musim perkawinan dilepas bersama-sama, bila ada
sapi-sapi betina yang bronst tanpa campur tangan si pemilik akan terjadi
perkawinan.
Cara perkawinan inilah yang lazim dilakukan pada usaha sapi potong dimana
perkawinan biasabya dilakukan secara musiman.
VII. PENGOLAHAN HASIL
Beragamnya jenis produk olahan ternak dengan nilai tambah yang tinggi
memberikan kesempatan kepada masyarakat di Propinsi Banten untuk memilih
berbagai alternatif. Jenis olahan dikembangkan sesuai dengan karakteristik dan
minat masyarakat. Dibandingkan dengan produk olahan memiliki daya tahan yang
lebih lama
sehingga dapat mengurangi resiko akibat perubahan harga. Selain itu, dalam
upaya turut menjaga kelestarian lingkungan, pengolahan produk sampingan seperti
kulit, tulang dan darah dapat mengurangi resiko pencemaran lingkungan.
Penanganan yang cermat dan teliti sangat diperlukan dalam proses produksi untuk
menghasilkan pruduk olahan sesuia dengan standar yang sngat erat kaitannya
dengan mutu dan kesehatan produk yang dihasilkan. Hal ini menjadi kendala utama
dalam memperkenalkan teknologi pengolahandi wilayah pedesaan, karena
pengembangan agribisnin dan agroindustri peternakan dan hasil ikutannya belum
berkembang dengan optimal di Propinsi Banten.
Hasil dari olahan ternak sapi potong diantaranya adalah :
a. daging bisa diolah sebagi dendeng, daging asap, sosis, bakso,abon, corned.
b. kulit bisa diolah sebagi bahan untuk pembuatan tas, sepatu, ikat pinggang.
VIII. PEMASARAN
Didalam pemasaran hasil sebaiknya dikoordinasikan oleh kelompok tani atau
ternak KUD. Agar biaya yang dikeluarkan tidak terlalu banyak karena bisa
ditanggung bersama-sama.
Pemasaran hasil sapi potong selain dipasarkan sebagai sapi potong berupa produk
daging, juga sering dijual dalam keadaan hidup dan sebaiknya memilih standar
harga per kilogram berat hidup.
Hasil panen ternak sapi potong dapat berupa daging dan kulit serta hasil
sampingnya berupa pupuk tau gas bio.
TERNAK SAPI BAGIAN KE II
BUDIDAYA TERNAK SAPI POTONG
( Bos sp. )
1. SEJARAH SINGKAT Sapi yang ada sekarang ini berasal dari Homacodontidae yang
dijumpai pada babak Palaeoceen. Jenis-jenis primitifnya ditemukan pada babak
Plioceen di India. Sapi Bali yang banyak dijadikan komoditi daging/sapi potong
pada awalnya dikembangkan di Bali dan kemudian menyebar ke beberapa wilayah
seperti: Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi.
2. SENTRA PETERNAKAN Sapi Bali, sapi Ongole, sapi PO (peranakan ongole) dan
sapi Madura banyak terdapat di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi.
Sapi jenis Aberdeen angus banyak terdapat di Skotlandia. Sapi Simental banyak
terdapat di Swiss. Sapi Brahman berasal dari India dan banyak dikembangkan di
Amerika.
3. J E N I S Jenis-jenis sapi potong yang terdapat di Indonesia saat ini adalah
sapi asli Indonesia dan sapi yang diimpor. Dari jenis-jenis sapi potong itu,
masing-masing mempunyai sifat-sifat yang khas, baik ditinjau dari bentuk
luarnya (ukuran tubuh, warna bulu) maupun dari genetiknya (laju pertumbuhan).
Sapi-sapi Indonesia yang dijadikan sumber daging adalah sapi Bali, sapi Ongole,
sapi PO (peranakan ongole) dan sapi Madura. Selain itu juga sapi
Aceh yang banyak diekspor ke Malaysia (Pinang). Dari populasi sapi potong yang
ada, yang penyebarannya dianggap merata masing-masing adalah: sapi Bali, sapi
PO, Madura dan Brahman.
Sapi Bali berat badan mencapai 300-400 kg. dan persentase karkasnya 56,9%. Sapi
Aberdeen angus (Skotlandia) bulu berwarna hitam, tidak bertanduk, bentuk tubuh
rata seperti papan dan dagingnya padat, berat badan umur 1,5 tahun dapat
mencapai 650 kg, sehingga lebih cocok untuk dipelihara sebagai sapi potong.
Sapi Simental (Swiss) bertanduk kecil, bulu berwarna coklat muda atau
kekuning-kuningan. Pada bagian muka, lutut kebawah dan jenis gelambir, ujung
ekor berwarna putih.
Sapi Brahman (dari India), banyak dikembangkan di Amerika. Persentase karkasnya
45%. Keistimewaan sapi ini tidak terlalu selektif terhadap pakan yang
diberikan, jenis pakan (rumput dan pakan tambahan) apapun akan dimakannya,
termasuk pakan yang jelek sekalipun. Sapi potong ini juga lebih kebal terhadap
gigitan caplak dan nyamuk serta tahan panas.
4. MANFAAT Memelihara sapi potong sangat menguntungkan, karena tidak hanya
menghasilkan daging dan susu, tetapi juga menghasilkan pupuk kandang dan
sebagai tenaga kerja. Sapi juga dapat digunakan meranih gerobak, kotoran sapi
juga mempunyai nilai ekonomis, karena termasuk pupuk organik yang dibutuhkan
oleh semua jenis tumbuhan. Kotoran sapi dapat menjadi sumber hara yang dapat
memperbaiki struktur tanah sehingga menjadi lebih gembur dan subur.
Semua organ tubuh sapi dapat dimanfaatkan antara lain:
1) Kulit, sebagai bahan industri tas, sepatu, ikat pinggang, topi, jaket.
2) Tulang, dapat diolah menjadi bahan bahan perekat/lem, tepung tulang dan
barang kerajinan
3) Tanduk, digunakan sebagai bahan kerajinan seperti: sisir, hiasan dinding dan
masih banyak manfaat sapi bagi kepentingan manusia.
5. PERSYARATAN LOKASI Lokasi yang ideal untuk membangun kandang adalah daerah
yang letaknya cukup jauh dari pemukiman penduduk tetapi mudah dicapai oleh
kendaraan. Kandang harus terpisah dari rumah tinggal dengan jarak minimal 10
meter dan sinar matahari harus dapat menembus pelataran kandang serta dekat
dengan lahan pertanian. Pembuatannya dapat dilakukan secara berkelompok di
tengah sawah atau ladang.
6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
6.1. Penyiapan Sarana dan Peralatan
Kandang dapat dibuat dalam bentuk ganda atau tunggal, tergantung dari jumlah
sapi yang dimiliki. Pada kandang tipe tunggal, penempatan sapi dilakukan pada
satu baris atau satu jajaran, sementara kandang yang bertipe ganda
penempatannya dilakukan pada dua jajaran yang saling berhadapan atau saling
bertolak belakang. Diantara kedua jajaran tersebut biasanya dibuat jalur untuk
jalan.
Pembuatan kandang untuk tujuan penggemukan (kereman) biasanya berbentuk tunggal
apabila kapasitas ternak yang dipelihara hanya sedikit. Namun, apabila kegiatan
penggemukan sapi ditujukan untuk komersial, ukuran kandang harus lebih luas dan
lebih besar sehingga dapat menampung jumlah sapi yang lebih banyak.
Lantai kandang harus diusahakan tetap bersih guna mencegah timbulnya berbagai
penyakit. Lantai terbuat dari tanah padat atau semen, dan mudah dibersihkan
dari kotoran sapi. Lantai tanah dialasi dengan jerami kering sebagai alas
kandang yang hangat.
Seluruh bagian kandang dan peralatan yang pernah dipakai harus disuci hamakan
terlebih dahulu dengan desinfektan, seperti creolin, lysol, dan bahanbahan
lainnya.
Ukuran kandang yang dibuat untuk seekor sapi jantan dewasa adalah 1,5x2 m atau
2,5x2 m, sedangkan untuk sapi betina dewasa adalah 1,8x2 m dan untuk anak sapi
cukup 1,5x1 m per ekor, dengan tinggi atas + 2-2,5 m dari tanah. Temperatur di
sekitar kandang 25-40 derajat C (rata-rata 33 derajat C) dan kelembaban 75%.
Lokasi pemeliharaan dapat dilakukan pada dataran rendah (100-500 m) hingga
dataran tinggi (> 500 m).
Kandang untuk pemeliharaan sapi harus bersih dan tidak lembab. Pembuatan
kandang harus memperhatikan beberapa persyaratan pokok yang meliputi
konstruksi, letak, ukuran dan perlengkapan kandang.
1)Konstruksi dan letak kandang
Konstruksi kandang sapi seperti rumah kayu. Atap kandang berbentuk kuncup dan
salah satu/kedua sisinya miring. Lantai kandang dibuat padat, lebih tinggi dari
pada tanah sekelilingnya dan agak miring kearah selokan di luar kandang.
Maksudnya adalah agar air yang tampak, termasuk kencing sapi mudah mengalir ke
luar lantai kandang tetap kering. Bahan konstruksi kandang adalah kayu
gelondongan/papan yang berasal dari kayu yang kuat. Kandang sapi tidak boleh
tertutup rapat, tetapi agak terbuka agar sirkulasi udara didalamnya lancar.
Termasuk dalam rangkaian penyediaan pakan sapi adalah air minum yang bersih.
Air minum diberikan secara ad libitum, artinya harus tersedia dan tidak boleh
kehabisan setiap saat.
Kandang harus terpisah dari rumah tinggal dengan jarak minimal 10 meter dan
sinar matahari harus dapat menembus pelataran kandang. Pembuatan
kandang sapi dapat dilakukan secara berkelompok di tengah sawah/ladang.
2) Ukuran Kandang
Sebelum membuat kandang sebaiknya diperhitungkan lebih dulu jumlah sapi yang
akan dipelihara. Ukuran kandang untuk seekor sapi jantan dewasa adalah 1,5 x 2
m. Sedangkan untuk seekor sapi betina dewasa adalah 1,8 x 2 m dan untuk seekor
anak sapi cukup 1,5x1 m. 3) Perlengkapan Kandang
Termasuk dalam perlengkapan kandang adalah tempat pakan dan minum, yang
sebaiknya dibuat di luar kandang, tetapi masih dibawah atap. Tempat pakan
dibuat agak lebih tinggi agar pakan yang diberikan tidak diinjak-injak/
tercampur kotoran. Tempat air minum sebaiknya dibuat permanen berupa bak semen
dan sedikit lebih tinggi dari pada permukaan lantai.
Dengan demikian kotoran dan air kencing tidak tercampur didalamnya.
Perlengkapan lain yang perlu disediakan adalah sapu, sikat, sekop, sabit, dan
tempat untuk memandikan sapi. Semua peralatan tersebut adalah untuk
membersihkan kandang agar sapi terhindar dari gangguan penyakit sekaligus bisa
dipakai untuk memandikan sapi.
6.2. Pembibitan
Syarat ternak yang harus diperhatikan adalah:
1) Mempunyai tanda telinga, artinya pedet tersebut telah terdaftar dan lengkap
silsilahnya.
2) Matanya tampak cerah dan bersih.
3) Tidak terdapat tanda-tanda sering butuh, terganggu pernafasannya serta dari
hidung tidak keluar lendir.
4) Kukunya tidak terasa panas bila diraba.
5) Tidak terlihat adanya eksternal parasit pada kulit dan bulunya.
6) Tidak terdapat adanya tanda-tanda mencret pada bagian ekor dan dubur.
7) Tidak ada tanda-tanda kerusakan kulit dan kerontokan bulu.
8) Pusarnya bersih dan kering, bila masih lunak dan tidak berbulu menandakan
bahwa pedet masih berumur kurang lebih dua hari.
Untuk menghasilkan daging, pilihlah tipe sapi yang cocok yaitu jenis sapi Bali,
sapi Brahman, sapi PO, dan sapi yang cocok serta banyak dijumpai di daerah
setempat. Ciri-ciri sapi potong tipe pedaging adalah sebagai berikut:
1) tubuh dalam, besar, berbentuk persegi empat/bola. 2) kualitas dagingnya
maksimum dan mudah dipasarkan. 3) laju pertumbuhannya relatif cepat. 4)
efisiensi bahannya tinggi.
6.3. Pemeliharaan
Pemeliharaan sapi potong mencakup penyediaan pakan (ransum) dan pengelolaan
kandang. Fungsi kandang dalam pemeliharaan sapi adalah :
a) Melindungi sapi dari hujan dan panas matahari.
b) Mempermudah perawatan dan pemantauan.
c) Menjaga keamanan dan kesehatan sapi.
Pakan merupakan sumber energi utama untuk pertumbuhan dan pembangkit tenaga..
Makin baik mutu dan jumlah pakan yang diberikan, makin besar tenaga yang
ditimbulkan dan masih besar pula energi yang tersimpan dalam bentuk daging.
Sanitasi dan Tindakan Preventif
Pada pemeliharaan secara intensif sapi-sapi dikandangkan sehingga peternak
mudah mengawasinya, sementara pemeliharaan secara ekstensif pengawasannya sulit
dilakukan karena sapi-sapi yang dipelihara dibiarkan hidup bebas.
Pemberian Pakan
Pada umumnya, setiap sapi membutuhkan makanan berupa hijauan. Sapi dalam masa
pertumbuhan, sedang menyusui, dan supaya tidak jenuh memerlukan pakan yang
memadai dari segi kualitas maupun kuantitasnya.
Pemberian pakan dapat dilakukan dengan 3 cara: yaitu penggembalaan (Pasture
fattening), kereman (dry lot faatening) dan kombinasi cara pertama dan kedua.
Penggembalaan dilakukan dengan melepas sapi-sapi di padang rumput, yang
biasanya dilakukan di daerah yang mempunyai tempat penggembalaan cukup luas,
dan memerlukan waktu sekitar 5-7 jam per hari. Dengan cara ini, maka tidak
memerlukan ransum tambahan pakan penguat karena sapi telah memakan
bermacam-macam jenis rumput.
Pakan dapat diberikan dengan cara dijatah/disuguhkan yang yang dikenal dengan
istilah kereman. Sapi yang dikandangkan dan pakan diperoleh dari ladang,
sawah/tempat lain. Setiap hari sapi memerlukan pakan kira-kira sebanyak 10%
dari berat badannya dan juga pakan tambahan 1% - 2% dari berat badan. Ransum
tambahan berupa dedak halus atau bekatul, bungkil kelapa, gaplek, ampas tahu.
yang diberikan dengan cara dicampurkan dalam rumput ditempat pakan. Selain itu,
dapat ditambah mineral
sebagai penguat berupa garam dapur, kapus. Pakan sapi
dalam bentuk campuran dengan jumlah dan perbandingan tertentu ini dikenal
dengan istilah ransum.
Pemberian pakan sapi yang terbaik adalah kombinasi antara penggembalaan dan
keraman. Menurut keadaannya, jenis hijauan dibagi
menjadi 3 katagori, yaitu hijauan segar, hijauan kering, dan silase. Macam
hijauan segar adalah rumput-rumputan, kacang-kacangan (legu minosa) dan tanaman
hijau lainnya. Rumput yang baik untuk pakan sapi adalah rumput gajah, rumput
raja (king grass), daun turi, daun lamtoro.
Hijauan kering berasal dari hijauan segar yang sengaja dikeringkan dengan
tujuan agar tahan disimpan lebih lama. Termasuk dalam hijauan kering adalah
jerami padi, jerami kacang tanah, jerami jagung, dsb. yang biasa digunakan pada
musim kemarau. Hijauan ini tergolong jenis pakan yang banyak mengandung serat
kasar.
Hijauan segar dapat diawetkan menjadi silase. Secara singkat pembuatan silase
ini dapat dijelaskan sebagai berikut: hijauan yang akan dibuat silase ditutup
rapat, sehingga terjadi proses fermentasi. Hasil dari proses inilah yang
disebut silase. Contoh-contoh silase yang telah memasyarakat antara lain silase
jagung, silase rumput, silase jerami padi, dll.
Pemeliharaan Kandang
Kotoran ditimbun di tempat lain agar mengalami proses fermentasi (+1-2 minggu)
dan berubah menjadi pupuk kandang yang sudah matang dan baik. Kandang sapi
tidak boleh tertutup rapat (agak terbuka) agar sirkulasi udara didalamnya
berjalan lancar.
Air minum yang bersih harus tersedia setiap saat. Tempat pakan dan minum
sebaiknya dibuat di luar kandang tetapi masih di bawah atap. Tempat pakan
dibuat agak lebih tinggi agar pakan yang diberikan tidak diinjak-injak atau
tercampur dengan kotoran. Sementara tempat air minum sebaiknya dibuat permanen
berupa bak semen dan sedikit lebih tinggi daripada permukaan lantai. Sediakan
pula peralatan untuk memandikan sapi.
7. HAMA DAN PENYAKIT
7.1. Penyakit
1. Penyakit antraks
Penyebab: Bacillus anthracis yang menular melalui kontak langsung,
makanan/minuman atau pernafasan.
Gejala: (1) demam tinggi, badan lemah dan gemetar; (2) gangguan pernafasan; (3)
pembengkakan pada kelenjar dada, leher, alat kelamin dan badan penuh bisul; (4)
kadang-kadang darah berwarna merah hitam yang keluar melalui hidung, telinga,
mulut, anus dan vagina; (5) kotoran ternak cair dan sering bercampur darah; (6)
limpa bengkak dan berwarna kehitaman.
Pengendalian: vaksinasi, pengobatan antibiotika, mengisolasi sapi yang
terinfeksi serta mengubur/membakar sapi yang mati.
2. Penyakit mulut dan kuku (PMK) atau penyakit Apthae epizootica (AE)
Penyebab: virus ini menular melalui kontak langsung melalui air kencing, air
susu, air liur dan benda lain yang tercemar kuman AE.
Gejala: (1) rongga mulut, lidah, dan telapak kaki atau tracak melepuh serta
terdapat tonjolan bulat berisi cairan yang bening; (2) demam atau panas, suhu
badan menurun drastis; (3) nafsu makan menurun bahkan tidak mau makan sama
sekali; (4) air liur keluar berlebihan.
Pengendalian: vaksinasi dan sapi yang sakit diasingkan dan diobati secara
terpisah.
3. Penyakit ngorok/mendekur atau penyakit Septichaema epizootica (SE)
Penyebab: bakteri Pasturella multocida. Penularannya melalui makanan dan
minuman yang tercemar bakteri.
Gejala: (1) kulit kepala dan selaput lendir lidah membengkak, berwarna merah
dan kebiruan; (2) leher, anus, dan vulva membengkak; (3) paru-paru meradang,
selaput lendir usus dan perut masam dan berwarna merah tua; (4) demam dan sulit
bernafas sehingga mirip orang yang ngorok. Dalam keadaan sangat parah, sapi
akan mati dalam waktu antara 12-36 jam.
Pengendalian: vaksinasi anti SE dan diberi antibiotika atau sulfa.
4. Penyakit radang kuku atau kuku busuk (foot rot)
Penyakit ini menyerang sapi yang dipelihara dalam kandang yang basah dan kotor.
Gejala: (1) mula-mula sekitar celah kuku bengkak dan mengeluarkan cairan putih
keruh; (2) kulit kuku mengelupas; (3) tumbuh benjolan yang menimbulkan rasa
sakit; (4) sapi pincang dan akhirnya bisa lumpuh.
7.2. Pengendalian
Pengendalian penyakit sapi yang paling baik menjaga kesehatan sapi dengan
tindakan pencegahan. Tindakan pencegahan untuk menjaga kesehatan sapi adalah:
1. Menjaga kebersihan kandang beserta peralatannya, termasuk memandikan sapi.
2. Sapi yang sakit dipisahkan dengan sapi sehat dan segera dilakukan
pengobatan.
3. Mengusakan lantai kandang selalu kering.
4. Memeriksa kesehatan sapi secara teratur dan dilakukan vaksinasi sesuai
petunjuk.
8. P A N E N
8.1. Hasil Utama
Hasil utama dari budidaya sapi potong adalah dagingnya
8.2. Hasil Tambahan
Selain daging yang menjadi hasil budidaya, kulit dan kotorannya juga sebagai
hasil tambahan dari budidaya sapi potong.
9. PASCA PANEN
9.1. Stoving
Ada beberapa prinsip teknis yang harus diperhatikan dalam pemotongan sapi agar
diperoleh hasil pemotongan yang baik, yaitu:
1. Ternak sapi harus diistirahatkan sebelum pemotongan
2. Ternak sapi harus bersih, bebas dari tanah dan kotoran lain yang dapat
mencemari daging.
3. Pemotongan ternak harus dilakukan secepat mungkin, dan rasa sakit yang
diderita ternak diusahakan sekecil mungkin dan darah harus keluar secara
tuntas.
4. Semua proses yang digunakan harus dirancang untuk mengurangi jumlah dan
jenis mikroorganisme pencemar seminimal mungkin.
9.2. Pengulitan
Pengulitan pada sapi yang telah disembelih dapat dilakukan dengan menggunakan
pisau tumpul atau kikir agar kulit tidak rusak. Kulit sapi
dibersihkan dari daging, lemak, noda darah atau kotoran yang menempel. Jika
sudah bersih, dengan alat perentang yang dibuat dari kayu, kulit sapi dijemur
dalam keadaan terbentang. Posisi yang paling baik untuk penjemuran dengan sinar
matahari adalah dalam posisi sudut 45 derajat.
9.3. Pengeluaran Jeroan
Setelah sapi dikuliti, isi perut (visceral) atau yang sering disebut dengan
jeroan dikeluarkan dengan cara menyayat karkas (daging) pada bagian perut sapi.
9.4. Pemotongan Karkas
Akhir dari suatu peternakan sapi potong adalah menghasilkan karkas berkualitas
dan berkuantitas tinggi sehingga recahan daging yang dapat dikonsumsipun
tinggi. Seekor ternak sapi dianggap baik apabila dapat menghasilkan karkas
sebesar 59% dari bobot tubuh sapi tersebut dan akhirnya akan diperoleh 46,50%
recahan daging yang dapat dikonsumsi. Sehingga dapat dikatakan bahwa dari
seekor sapi yang dipotong tidak akan seluruhnya menjadi karkas dan dari seluruh
karkas tidak akan seluruhnya menghasilkan daging yang dapat dikonsumsi manusia.
Oleh karena itu, untuk menduga hasil karkas dan daging yang akan diperoleh,
dilakukan penilaian dahulu sebelum ternak sapi potong. Di negara maju terdapat
spesifikasi untuk pengkelasan (grading) terhadap steer, heifer dan cow yang
akan dipotong.
Karkas dibelah menjadi dua bagian yaitu karkas tubuh bagian kiri dan karkas
tubuh bagian kanan. Karkas dipotong-potong menjadi sub-bagian leher, paha
depan, paha belakang, rusuk dan punggung. Potongan tersebut dipisahkan menjadi
komponen daging, lemak, tulang dan tendon. Pemotongan karkas harus mendapat
penanganan yang baik supaya tidak cepat menjadi rusak, terutama kualitas dan
hygienitasnya. Sebab kondisi karkas dipengaruhi oleh peran mikroorganisme
selama proses pemotongan dan pengeluaran jeroan.
Daging dari karkas mempunyai beberapa golongan kualitas kelas sesuai dengan
lokasinya pada rangka tubuh. Daging kualitas pertama adalah daging di daerah
paha (round) kurang lebih 20%, nomor dua adalah daging daerah pinggang (loin),
lebih kurang 17%, nomor tiga adalah daging daerah punggung dan tulang rusuk
(rib) kurang lebih 9%, nomor empat adalah daging daerah bahu (chuck) lebih
kurang 26%, nomor lima adalah daging daerah dada (brisk) lebih kurang 5%, nomor
enam daging daerah perut (frank) lebih kurang 4%, nomor tujuh adalah daging
daerah rusuk bagian bawah sampai perut bagian bawah (plate & suet) lebih
kurang
11%, dan nomor delapan adalah daging bagian kaki depan (foreshank) lebih kurang
2,1%. Persentase bagian-bagian dari karkas tersebut di atas dihitung dari berat
karkas (100%).
Persentase recahan karkas dihitung sebagai berikut:
Persentase recahan karkas = Jumlah berat recahan / berat karkas x 100 %
Istilah untuk sisa karkas yang dapat dimakan disebut edible offal, sedangkan
yang tidak dapat dimakan disebut inedible offal (misalnya: tanduk, bulu,
saluran kemih, dan bagian lain yang tidak dapat dimakan).
10. ANALISIS
EKONOMI BUDIDAYA TANAMAN
10.1. Analisis Usaha Budidaya
Perkiraan analisis budidaya sapi potong kereman setahun di Bangli skala 25 ekor
pada tahun 1999 adalah sebagai berikut:
1) Biaya Produksi
a. Pembelian 25 ekor bakalan : 25 x 250 kg x Rp. 7.800,- Rp. 48.750.000,- b.
Kandang Rp. 1.000.000,- c. Pakan
- Hijauan: 25 x 35 kg x Rp.37,50 x 365 hari
- Konsentrat: 25 x 2kg x Rp. 410,- x 365 hari
Rp. 12.000.000,-
Rp. 7.482.500,- d. Retribusi kesehatan ternak: 25 x Rp. 3.000,- Rp. 75.000,-
Jumlah biaya produksi Rp. 69.307.500,-
2) Pendapatan
a. Penjualan sapi kereman
Tambahan >Rp. 75.000,- Jumlah biaya produksi Rp. 69.307.500,-
2) Pendapatan
a. Penjualan sapi kereman
Tambahan berat badan: 25 x 365 x 0,8 kg = 7.300 kg
Berat sapi setelah setahun: (25 x 250 kg) + 7.300 kg = 13.550 kg
Harga jual sapi hidup: Rp. 8.200,-/kg x 13.550 kg
Rp. 111.110.000,- b. Penjualan kotoran basah: 25 x 365 x 10 kg x Rp. 12,- Rp.
1.095.000,- Jumlah pendapatan Rp. 112.205.000,-
3) Keuntungan
a. Tanpa memperhitungkan biaya tenaga internal keuntungan Penggemukan 25 ekor
sapi selama setahun. Rp. 42.897.500,-
4) Parameter kelayakan usaha
a. B/C ratio = 1,61 10.2. Gambaran Peluang Agribisnis
Sapi potong mempunyai potensi ekonomi yang tinggi baik sebagai ternak potong
maupun ternak bibit. Selama ini sapi potong dapat mempunyai kebutuhan daging
untuk lokal seperti rumah tangga, hotel, restoran, industri pengolahan,
perdagangan antar pulau. Pasaran utamanya adalah kota-kota besar seperti kota
metropolitan Jakarta.
Konsumen untuk daging di Indonesia dapat digolongkan ke dalam beberapa segmen
yaitu :
a) Konsumen Akhir
Konsumen akhir, atau disebut konsumen rumah tangga adalah pembeli-pembeli yang
membeli untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan individunya. Golongan ini
mencakup porsi yang paling besar dalam konsumsi daging, diperkirakan mencapai
98% dari konsumsi total.
Mereka ini dapat dikelompokkan lagi ke dalam ova sub segmen yaitu :
1. Konsumen dalam negeri ( Golongan menengah keatas )
Segmen ini merupakan segmen terbesar yang kebutuhan dagingnya kebanyakan
dipenuhi dari pasokan dalam negeri yang masih belum memperhatikan kualitas
tertentu sebagai persyaratan kesehatan maupun selera.
2. Konsumen asing
Konsumen asing yang mencakup keluarga-keluarga diplomat, karyawan perusahaan
dan sebagian pelancong ini porsinya relatif kecil dan tidak signifikan. Di
samping itu juga kemungkinan terdapat konsumen manca negara yang selama ini
belum terjangkau oleh pemasok dalam negeri, artinya ekspor belum dilakukan/jika
dilakukan porsinya tidak signifikan.
b) Konsumen Industri
Konsumen industri merupakan pembeli-pembeli yang menggunakan daging untuk
diolah kembali menjadi produk lain dan dijual lagi guna mendapatkan laba.
Konsumen ini terutama meliputi: hotel dan restauran dan yang jumlahnya semakin
meningkat
Adapun mengenai tata niaga daging di negara kita diatur dalam inpres nomor 4
tahun 1985 mengenai kebijakansanakan kelancaran arus barang untuk menunjang
kegiatan ekonomi.
Di Indonesia terdapat 3 organisasi yang bertindak seperti pemasok daging yaitu
:
a) KOPPHI (Koperasi Pemotongan Hewan Indonesia), yang mewakili pemasok produksi
peternakan rakyat.
b) APFINDO (Asosiasi Peternak Feedlot (penggemukan) Indonesia), yang mewakili
peternak penggemukan c) ASPIDI (Asosiasi Pengusaha Importir Daging Indonesia).
anto_toto2000,
Monday, December 20, 2010
Gambar 1& 2 Peternakan Sapi Potong di Indonesia
Tambahan :)
Video 1. Pengobatan burung snot @ klinik hewan happiness
Video 2. Pemulihan pasca pengobatan feline panleucopenia virus (FPV) / distemper @ klinik hewan happiness :)
Peluang usaha ternak sampai sekarang ini masih sangat
menjanjikan, hal itu didukung dengan tingkat konsumsi masyarakat yang semakin
tinggi dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia semakin pesat. Anda pun dituntut
untuk semakin cerdas dalam memanfaatkan beberapa peluang usaha yang ada,
apalagi peluang tersebut terkadang oleh sebagian orang dipandang sebelah mata
namun ternyata memiliki nilai jual yang tinggi di pasaran. Begitu pula dengan
peluang usaha ternak bebek baik pedaging maupun petelur, tingkat permintaan
konsumen cenderung tinggi.
Pada dasarnya tidak ada perbedaan yang mendasar antara ternak
bebek pedaging dan petelur dilihat dari sisi perawatan, hanya saja yang sedikit
membedakannya pada pemberian pakan, bebek petelur diberikan pakan berupa
mineral yang lebih banyak porsinya dibandingkan bebek pedaging
Cara Ternak
Bebek Pedaging dan Petelur
Persiapan Kandang
Dalam beternak bebek
yang pertama kita perhatikan yaitu persyaratan kandang yang ideal untuk
beternak, di antaranya
·kandang mempunyai suhu sekitar 39°C , jadi bebek lebih menyukai kondisi
kandang yang lumayan panas dan terik.
·Tingkat kelembapan udara yang ideal yaitu 60-65%
·Sebaiknya diberikan penerangan pada kandang untuk memudahkan kita dalam
pengaturan kandang.
Jenis kandang bebek
ada 3 macam yaitu :
·Kandang anak bebek (DOD) , biasa disebut kandang box memiliki ukuran 1 x 2
meter yang bisa menampung sekitar 50 ekor DOD
·Kandang bebek remaja (Brower), biasa disebut kandang ren memiliki daya
tampung sekitar 16 – 100 ekor per kelompok.
·Kandang bebek masa bertelur (kandang layar) , kandang bisa berbentuk kotak
kecil yang memuat 1-2 ekor per kotak atau kandang berkelompok dengan daya
tampung 4-5 ekor bebek dewasa. Pada masa bertelur atau bebek dewasa yang
berjumlah 30 ekor ditempatkan pada kandang 3×2 meter.
Persiapan
Pembibitan
Anda bisa menggunakan
salah satu dari dua jenis pembibitan yaitu memakai DOC atau bebek dara. Apabila
ingin produksi bebek dengan cepat, Anda bisa memakai bebek dara. Sebaliknya,
jika ingin menekan biaya pembelian bibit maka Anda bisa membeli bibit DOC untuk
bebek petelur atau bebek pedaging dengan kualitas unggul. Pemakaian bibit DOC
dan bebek dara sama-sama mempunyai beberapa keunggulan dan kelemahan, harga
yang ditawarkan dari bibit DOC lebih terjangkau dibandingkan membeli bebek
dara, namun bebek dara memiliki keunggulan yang bisa berproduksi lebih cepat.
Apabila Anda membeli
DOC, lakukan perawatan yang memadai seperti pemanasan DOC dan vaksinasi. Namun
jika lebih memilih membeli bebek dara, Anda tidak perlu disibukkab dengan
vaksinasi dan penghangatan kandang.
Berikut ini kami ulas
cara memilih bibit bebek dengan kualiatas baik :
·Belilah telur tetas dari indukan itik yang terjamin kualitasnya
·Anda bisa juga memelihara indukan itik pejantan dan betina untuk
menghasilkan telur tetas, lalu letakkan pada ayam, menthok atau mesin tetas.
·Beli DOD dari pembibitan yang sudah diakui oleh Dinas Peternakan setempat
atau sudah mendapat reputasi baik dari para peternak bebek yang lain
·DOD yang memiliki kualitas yang baik yaitu tidak ada cacat atau sakit dan
bulunya berwarna kuning mengkilap,
Perawatan Bibit dan Calon Induk
1. Perawatan
Bibit
Bibit bebek (DOD) yang baru sampai dari pembibitan, segera
lakukan penanganan teknis supaya tidak salah perawatan. Cara penanganannya
sebagai berikut :
Setelah bibit (DOD) diterima, lekas ditempatkan pada kandang
brooder atau indukan yang sebelumnya sudah disiapkan. Kandang brooder bisa
menampung sekitar 50 ekor DOD dengan ukuran 1 m², perhatikan pula temperatur
kandangnya dan pastikan DOD tersebar merata di kandang. Pada fase stater atau
permulaan , jenis pakannya perlu ditambahkan vitamin dan mineral.
2. Perawatan
Calon Induk
Calon indukan bebek ada 2 jenis yaitu induk produksi telur tetas
dan induk produksi telur untuk konsumsi. Untuk perawatannya relatif sama, namun
perbedaannya hanya pada indukan untuk memproduksi telur tetas diharuskan ada
induk jantan dengan perbandingan 1 induk jantan untuk 5-6 ekor induk
betina.
3.
Reproduksi dan Perkawinan
Reproduksi atau perkembang biakan yaitu untuk memperoleh telur
tetas yang fertil atau terbuahi dengan baik oleh itik jantan. Selain itu sistem
perkawinan bebek ada dua jenis yaitu itik hand mating atau pakan itik batan
manusia serta nature mating yaitu perkawinan itik melalui proses alami.
Pemeliharaan
1.
Pemeliharaan Kandang
Kami sarankan untuk membersihkan kandang dengan disapu minimal
seminggu 2 kali, segera bersihkan sisa makanan dan kotoran dari kandang bebek.
Langkah ini diperlukan untuk mencegah timbulnya beberapa penyakit dan
memelihara kesehatan bebek
2. Kontrol
Kesehatan Bebek
Dalam tata cara beternak bebek petelur dan pedaging diperlukan
pengawasan kesehatan yang baik, caranya yaitu dengan melihat aktivitas bebek.
Apabila bebek kurang aktif dalam bergerak di dalam kandang, maka bisa
diindikasikan bebek tersebut kurang vitamin dan apabila bebek terlihat kurang
nafsu makan bisa terindikasi bebek dalam keadaan sakit.
3. Pemberian
Pakan Bebek
Pemberian pakan bebek dibagi menjadi 3 fase, yaitu starter (usia
0 – 8 minggu), grower (usia 8-18 minggu) dan fase layar (usia 18-27 minggu).
Makanan ketiga fase itu berupa pakan buatan pabrik (secara
praktisnya) dengan jenis kode berbeda untuk masing-masing fase. Cara pemberian
pakan tersebut dibagi dalam 4 kelompok yaitu;
·usia 0-16 hari diberikan di tempat pakan datar (tray feeder)
·usia 16-21 hari diberikan dengan cara tray feeder serta sebaran
dilantai
·usia 21-18 minggu disebar pada lantai
·usia 18-72 minggu, ada dua cara pemberian pakannya yaitu 7 hari
pertama dengan cara makanan peralihan dengan memperhatikan produksi bertelur
permulaan sampai produksi mencapai 5%. Kemudian pemberian pakan bebek
secara ad libitum atau terus-menerus.
Makanan bebek secara ad libitum, bisa menghemat biaya pakan baik
tempat ransum nya sendiri yang biasa di ranum dari bahan-bahan semacam tepung
ikan, tepung tulang, jagung, bekatul, bungkil feed suplemen.
Pemberian minuman bebek, berdasarkan pada usia bebek juga yaitu;
·usia 0-7 hari, untuk masa 3 hari pertama air minum ditambah
dengan vitamin dan mineral, tempatnya asam hampir seperti untuk anak ayam.
·usia 7-28 hari, tempat minum ditempatkan dipinggir kandang serta
air minum nya diberikan secara ad libitum atau terus-menerus.
·usia 28 hari-akhir, tempat minum 4 persegi panjang dengan ukuran
2 m x 15 cm serta tinggi 10 cm untuk kapasitas 200-300 ekor.
Penyakit Pada Bebek
Pada umunya penyakit bebek dibedakan menjadi dua hal yaitu;
·Penyakit yang diakibatkan oleh mikroorganisme contohnya virus,
bakteri dan protozoa
·Penyakit yang diakibatkan oleh defisiensi zat makanan serta tata
letak perkandangan yang kurang sesuai.
Penyakit yang sering ditemukan di peternakan bebek petelur dan
pedaging, di antaranya
·Penyakit Duck Cholera
Diakibatkan oleh jenis bakteri Pasteurela avicida
Gejala serangan: mencret, tinja kuning kehijauan, lumpuh
Cara pengendalian: sanitasi pada kandang, pengobatan melalui suntikan penisilin
di bagian urat daging dada yang disesuaikan dengan dosis label obat.
·Penyakit Salmonellosis
Penyebab oleh bakteri typhimurium
Gejala serangan: pernafasan pada bebek sesak, kadang-kadang mencret
Cara pengendalian: lakukan sanitasi yang baik, pengobatan menggunakan
furazolidone melalui pakan bebek dengan konsentrasi 0,04% atau memakai
sulfadimidin yang dicampur dengan air minum, dosisnya disesuaikan.