Translate

Jumat, 31 Maret 2017

Teknik Beternak Kambing yang Mengungtungkan :)

Dengan menggunakan cara ternak kambing yang baik dan benar maka sebuah usaha ternak kambing akan berjalan dengan lancar dan juga hasil panennya akan lebih maksimal. Kambing adalah salah satu binatang jenis mamalia berkaki empat yang keberadaannya sangat banyak kita jumpai di segala wilayah Indonesia. Saat ini memang ternak kambing menjadi hal yang biasa terutama untuk yang tinggal di pedesaan, rata-rata para penduduk desa memang berprofesi sebagai petani dan peternak, dan pada umumnya mereka akan memelihara kambing, sapi, ayam, dan binatang ternak lainnya. Namun, para masyarakat desa tidak sadar akan besarnya peluang ternak kambing di Negara kita, saat ini daging kambing sangat laris di pasaran karena seiring dengan semakin banyaknya penduduk di Negara kita dan juga memang dagingnya yang memiliki rasa khas untuk di sate atau olahan masakan lainnya.
Cara ternak kambing yang baik dan benar sehingga akan menunjang penghasilan belum di praktekkan oleh para masyarakat desa yang telah melakukan ternak kambing, di sana hanya memiliki beberapa ekor kambing saja. Mereka tidak ada target untuk mengembangkan ternaknya, dan kambing sifatnya adalah hanya sebagai harta simpanan di lain waktu jika membutuhkannya maka akan di jual di pasar atau melalui tengkulak. Padahal justru sangat tepat untuk memulai usaha ternak kambing di daerah pedesaan, lokasi yang tepat dan juga banyaknya sumber makanan kambing di sana. Para petani yang juga melakukan ternak kambing tidak memiliki target dalam ternaknya, seperti target jumlah setiap bulan atau tahunannya, karena sedikitnya kambing siap potong di Indonesia maka pemerintah masih melakukan impor daging. Untuk menaggapi hal ini maka dalam hati saya untuk membuat artikel tentang cara ternak kambing yang mungkin akan bermanfaat bagi yang ingin memulai usaha ternak kambing.


Dengan serius untuk menjalankan cara ternak kambing yang baik, maka sebenarnya peluang yang sangat istimewa untuk mendapatkan pundi-pundi rupiah semakin terbuka lebar, ini yang saya analisa sebelum membuat artikel tentang hal ini. Dalam perawatannya, kambing ini sangat mudah untuk di budidayakan, ketahanan dari serangan penyakit dan juga biaya pakan yang minim menjadi peluang yang sangat menyedihkan jika kita lewati. Kambing memiliki tingkat perkembangbiakan yang sangat baik, dalam 7 bulan induk kambing sudah bisa di kawinkan lagi, dengan masa kehamilan sekitar 5-6 bulan, maka anak kambing akan terlahir. Pada umumnya 1 induk kambing akan beranak sekitar 1-4 ekor, jadi ini sangat bagus untuk kita kembangkan menjadi usaha ternak yang berpotensi.


Keuntungan dari cara beternak kambing yang tepat tentunya adalah maksimalnya pertumbuhan dan perkembangbiakan pada kambing.  Dari hal itu juga masih banyak keuntungannya, yaitu dari hasil susu peras yang di hasilkan (jika ternak kambing etawa/susu), keuntungan lainnya adalah pupuk kandang yang bisa dijual atau di gunakan pupuk sendiri. Pupuk yang di hasilkan dari kotoran dan pembuangan sisa pakan dai ternak kambing sangat bagus untuk di gunakan sebagai pupuk organik. Jadi tunggu apalgi segera kita mulai untuk melakukan ternak kambing sendiri!!


Proses Reproduksi Kambing


Sebelum memulai untuk menjalankan usaha ternak kambing, maka sebaiknya yang perlu kita ketahui adalah bagaimana prosesnya. Kambing memang memiliki tingkat reproduksi yang tinggi, bahkan kambing ini dapat melahirkan 2 kali dalam satu tahun. Paling tidak kambing akan beranak 3 kali dalam masa 2 tahun, jadi betapa menggiurkan untuk memulai usaha ternak kambing tersebut, apalagi jika induk mampu beranak 3-4 ekor setiap melahirkan tentunya akan mempercepat perkembangan ternak kambing yang kita lakukan.


Kambing ini akan dewasa setelah berumur 6 bulan, dan kambing siap di kawinkan saat berumur 10-12 bulan. Dengan lama waktu birahi sekitar  24 – 45 jam, dengan siklus birahi yang berselang selama 17 – 21 hari, birahi kambing dapat di tandai dengan sifatnya yang gelisah, memiliki nafsu makan dan minum berkurang, selalu mengibaskan ekornya, kencing lebih sering, kemaluan akan bengkak dan basah.


Dalam ternak kambing, ratio jumlah pejantan dan betina adalah = 1 : 10, jika perkawinan sudah terbuahi maka lama waktu bunting adalah 144 – 156 hari (atau sekitar 5 bulan). Dan anak kambing akan di sapih setelah sekitar 3-4 bulan anak kambing terlahir.
Langkah Awal Cara Ternak Kambing Yang Benar
Dalam langkah awal tentunya di mulai dari persiapan pembuatan kandang sebagai tempat tinggal kambing dan di akhiri dengan masa panen. Dalam langkah-langkah cara ternak kambing yang baik dan benar memang sangat mudah untuk di lakukan, kita bisa melakukan usaha ini sebagai usaha sampingan. Dibawah ini adalah langkah-langkah yang harus kita lakukan terlebih dahulu agar ternak kambing yang akan kita jalankan menjadi semakin mantab dan berimbas dengan maksimalnya hasil panen.


Persiapan Pembuatan Kandang Kambing


Untuk modal awal cara ternak kambing yang tepat, kandang ini adalah salah satu hal penting yang nantinya akan menunjang keberhasilan dari usaha ternak kambing yang akan kita jalankan. Kandang yang baik juga akan menimbulkan kenyamanan yang membuat kambing menjadi mudah gemuk dan berkembangbiak. Tingkat minimal kandang ini adalah bersih, memiliki sinar matahari yang cukup, tidak panas (teduh), dan penempatan kandang paling minim adalah berjarak 5 meter dari rumah. Hal ini ditakutkan akan berimbas bau kotoran campur urine kambing yang tidak sedap, ingat selain kambing kita sehat, kita juga lebih penting untuk lebih sehat. Di bawah ini adalah ukuran ideal kandang untuk memulai ternak kambing.
Kandang Cara Ternak Kambing Cepat Gemuk Dan Hasil Panen Maksimal


·                     Kandang untuk beranak untuk induk+dua anak : 120 cm x 120 cm /ekor
·                     Kandang induk (baik yang hamil atau tidak hamil) untuk 1 ekor: 100 cm x 125 cm
·                     Kandang pembesaran anak yang telah di sapih untuk satu ekor: 100 cm x 125 cm
·                     Kandang pejantan per ekornya adalah : 110 cm x 125 cm
·                     Kandang dara/dewasa (di siapkan sebagai kambing potong) per ekornya adalah : 100 cm x 125 cm
Persiapan Pemilihan Bibit Ternak Kambing


Dalam tahap ini tentunya kita sudah menentukan untuk melakukan ternak kambing dengan jenis tertentu, mengingat jenis kambing di Indonesia sangatlah banyak, bahkan sampai puluhan jenisnya di masing-masing wilayah. Dalam kasus ini, jika kita ingin ternak kambing sebagai kambing potong (pedaging) maka sebaiknya bibit yang kita siapkan adalah bibit jenis kambing kacang (jawa). Mengapa kambing ini, karena kambing ini sangatlah cepat untuk berkembangbiak, mudah gemuk, mudah adaptasi di semua lingkungan, lebih tahan penyakit, dan dagingnya paling diminati.
Jika kita ternak kambing dengan tujuan susu perah, maka bibit  jenis kambing yang harus kita siapkan adalah jenis kambing etawa,  kambing sangat bagus untuk menghasilkan susu.


Kambing etawa ini justru malah memiliki 2 opsi hasil panen, yaitu susu perah dan juga sebagai kambing potong/pedaging. Kambing etawa ini memiliki keunggulan tubuhnya yang berukuran yang besar, tentunya bobot daging yang di hasilkan juga lebih banyak daripada kambing jenis kacang/jawa. Baiklah, untuk menentukan bibit kambing sebagai induk dan pejantan yang baik harus memiliki kriteria seperti dibawah ini :


A.   Kriteria Calon Induk Kambing Yang Ideal:
Indukan Untuk Cara Ternak Kambing Cepat Gemuk Dan Hasil Panen Maksimal



·    Bentuk tubuhnya yang seimbang, memiliki dada yang dalam dan lebar, bentuk garis punggung dan pinggangnya lurus, tulangan/tubuhnya besar dan tidak gemuk (sehat) bukan obesitas
·      Berkaraktek jinak dan tidak galak
·      Memiliki keempat kakinya yang lurus dan tumitnya tinggi.
·      Memiliki jumlah gigi lengkap, mempunyai kriteria merumput dengan baik, dan rahang atas/bawah rata.
·      Terlahir dari 2 pranakan/bahkan anak tunggal.
·    Bentuk ambingnya simetris dan tidak menggantung atau memiliki puting 2 buah (bercabang).
B.   Kriteria Calon Pejantan Kambing Yang Ideal:
style="margin-left: auto; margin-right: auto;"> Pejantan Untuk Cara Ternak Kambing Cepat Gemuk Dan Hasil Panen Maksimal


·     Memiliki ukur tubuh yang besar dan panjang (tulangannya besar), sangat bagus jika memiliki bagian belakang yang lebih tinggi dan lebih besar, memiliki bentuk dada yang lebar, serta kambing tidak teralalu gemuk, perawakannya gagah, aktif dan tentunya memiliki nafsu kawin yang tinggi.
·      Bentuk seluruh kakinya yang lurus serta kuat.
·     Di lahirkan dari 2 bersaudara atau tunggal.
·     Memiliki usia di antara 1,5 -3 tahun.


Cara Pemberian Pakan Ternak Kambing


Poin ini juga termasuk hal penting dalam cara ternak kambing yang baik dan benar, pakan juga salah satu masalah penting yang menunjang keberhasilan ternak kambing yang telah kita mulai. Sebenarnya dalam pemberian pakan ini sangatlah mudah, tidak seperti pemberian pakan pada ternak lainnya, karna kambing ini dapat memakan rumput/hijau-hijauan lainnya serta pakan tambahan yang nantinya akan menunjang agar kambing cepat gemuk dan juga berreproduksi dengan baik.


Pakan yang di berikan sebaiknya yang lebih mudah di dapatkan, tidak pakan yang harganya mahal agar bisa menekan seminimal mungkin pengeluaran untuk pakan. Namun pakan yang kita berikan haruslah mengandung karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral yang cukup untuk kebutuhan kambing setiap harinya. Pakan yang di berikan juga di anjurkan yang mudah di cerna, tidak beracun, dan di sukai kambing (lahap makannya). Kandungan pakan ini bisa kita dapatkan dengan memberinya hijauan seperti berbagai jenis rumput dan makan tambahan seperti konsentrat yang bisa di dapatkan dengan membelinya di toko pakan ternak terdekat.


Solusi lainnya untuk mengganti konsentrat agar kambing sehat dan gemuk adalah campuran dari beberapa bahan seberat 3kg (sebaiknya 1 ekor kambing setiap harinya di berikan dengan berat pakan tambahan 3 kg) yaitu ;ampas tahu 40%, bekatul 40%, dan racikan singkong 20%, pakan tambahan bisa di berikan pada siang hari (bukan pada saat memberi pakan hijau-hijauan).
Cara pemberian pakan yang baik adalah dengan memberinya pakan rerumputan 2 kali dalam satu hari, yaitu pagi di antara pukul 08.00 WIB - pukul 16.00 WIB, berat rumput yang di butuhkan adalah 10% dari berat badan kambing setiap harinya. Dan pemberian pakan tambahan konsentrat/campuran bahan yang saya sebutkan diatas, adalah paling bagus diberikan pakan tambahan dengan berat 3kg setiap harinya, pakan tambahan bisa di berikan pada saat siang hari.


Untuk indukan kambing yang sedang hamil, menyusui, atau pejantan yang sering di kawinkan, sebaiknya di berikan pakan penguat yang bisa di beli di toko pakan ternak terdekat. Jangan lupa untuk memberinya minum setiap harinya, pemberian minum paling bagus setelah memberikan pakan tambahan.


Cara Pengendalian Penyakit Pada Kambing


Sudah sering saya bilang bahwa kunci keberhasilan dalam usaha ini adalah dengan menjalankan cara ternak kambing yang baik dan benar, dengan terpenuhinya poin tersebut maka keberhasilan ternak kambing yang telah kita jalankan akan tercapai. Selain dari persiapan kandang yang baik dan pemberian pakan yang tepat, ada satu hal lagi yang penting yaitu, pengendalian penyakit!!


Dengan pencegahan terjadinya serangan penyakit pada kambing maka sebaiknya di cegah dengan melalui sanitasi kandang yang tepat dan pemberian makanan yang mencukupi gizi, serta vaksinansi. Penyakit yang sering menyerang kambing adalah sebagai berikut ; cacingan, kudis (scabies), kembung perut (bloat), paru-paru (pneumonia), orf, dan koksidiosis. Semua penyakit ini bisa di kendalikan dengan cara ternak kambing yang baik dan benar, dengan itu kambing akan lebih sehat dan terhindar dari penyakit. Jika ada kambing yang terserang penyakit, maka sebaiknya di lakukan pemisahan dan pengobatan.


Cara Panen Ternak Kambing


Panen kambing ini tentunya terbagi dua jenis, yaitu sebagai kambing pedaging (potong) atau sebagai kambing susu perah. Dalam hal ini tentunya harus di usahakan agar selalu meningkatkan nilai tambah hasil  produksi ternak kambing yang kita jalankan yaitu  mencakup daging, susu, kulit, tanduk, atau kotoran yang nantinya bisa di jadikan pupuk organik.


Untuk waktu yang tepat menjual kambing adalah di saat berat badan kambing sudah tidak dapat bertambah lagi (berat maksimal) agar nilai jualnya tinggi karena dagingnya juga banyak. Kambing di usia 1-1,5 tahun berat tubuhnya sudah tidak dapat bertambah lagi (kambing normal tidak kurus), jadi saat umur tersebut sangat ideal untuk menjualnya.


Sangat mudah untuk menjalankan cara ternak kambing yang baik dan benar agar mencapai hasil produksi yang maksimal, Segera untuk memulai usaha ternak ini, saya ingatkan lagi bahwa permintaan daging kambing, susu kambing selalu mengalami kenaikan, dan peternakan di Negara kita belum mampu menjawab hal itu, solusinya pemerintah melakukan impor daging, jadi Anda tahu apa yang menjadi peluang usaha ini



Gambar 1,2 dan 3 cara, teknik dan metode beternak kambing yang baik :)

Semoga bermanfaat :)

Tambahan :)





 Video 1Kontrol kunjungan pemeriksaan rusa di ciumbuleuit (Klinik hewan happiness) :)



Video 2. Penitipan anjing dogy jack russell mix @ Klinik hewan happiness :)

Semoga bermanfaat :)

Terimakasih

Minggu, 26 Februari 2017

Teknik Ternak Kelinci :)

Cara beternak kelinci– Saat ini bisnis ternak kelinci masih jarang digeluti oleh masyarakat Indonesia. Padahal peluang ternak atau budidaya kelinci ini masih sangat potensial dan sedikit pesaing. Ternak kelinci ini dibagi menjadi dua macam yakni ternak kelinci pedaging dan ternak kelinci hias. Untuk teknik pemeliharaannya relatif sama dan sedikit perbedaan dengan perlakuan pada kelinci hias.
Di sebuah forum di facebook “ternak kelinci” ada beberapa orang yang baru memulai beternak kelinci sepasang. Namun kelincinya mati karena salah memberi makan. Untuk itu saya akan memberikan tips cara beternak kelinci bagi pemula agar kelincinya tidak mati. Berikut uraiannya :
1. Lahan dan Kandang
Bagi pemula sebaiknya membeli dua atau tiga pasang kelinci. Untuk lahannya bisa di belakang rumah atau disamping maupun depan rumah. Dalam membuat kandang, idealnya ukuran 60 cm x 50 cm x 60 cm. Jika Anda ingin memelihara tiga pasang kelinci, sebaiknya kadangnya ada enam. Jadi satu kandang ada satu kelinci. Setiap hari sebaiknya kadang dibersihkan. Ketika kita memberi makan di pagi hari, sisa makanan yang sore hari dibuang saja. Kemudian ketika kita memberi makan sore pada kelinci, sisa makanan di pagi hari dibuang. Hal ini bertujuan untuk menghindari kelinci terkena penyakin pencernaan seperti diare.

2. Pemilihan Induk Kelinci
Jika ingin indukan yang bagus, pilihlah usia kelinci yang sudah mapan yakni usia satu tahun. Kelinci bisa dikawinkan pada usia 6 atau 7 bulan. Pilihlah indukan yang sehat dan tanpa cacat. Kita bisa membelinya di peternakan kelinci secara langsung. Kalau di peternakan kita bisa tahu riwayat kelinci. Pilih juga kelinci yang badannya gemuk dan bulunya halus.

3. Pakan Kelinci
Untuk pakan kelinci kita bisa mencari rumput yang gratis atau kita juga bisa membeli seperti jenis-jenis sayuran. Contoh sayuran yang disenangi kelinci adalah sawi putih, kol, waluh hijau, wortel, mentimun, dan kangkung.

4. Usia perkawinan dan kehamilan kelinci
Usia kelinci yang siap kawin adalah usia 7 bulan. Pada saat itu kita bisa mengawinkan kelinci betina dengan kelinci jantan yang kita punya. Untuk menjaga trah atau jenis kelinci, sebaiknya kelinci dikawinkan yang berasal dari satu jenis kelinci. Perlu diperhatikan juga, kelinci dikawinkan dari kelinci yang berbeda indukannya. Kelinci bisa dikawinkan tiga kali dalam tiga hari. Kelinci betina diletakan di kandang jantan dan kita pantau. Setelah kelinci kawin, segera ambil kelinci betina dan masukan di kandangnya. Jangan sampai dicampur dalam satu kandang selama sehari atau beberapa hari. Setelah kelinci kawin, catat tanggal kawinnya. Tujuan pencacatan agar kita bisa memprediksi hari lahir kelinci. Kelinci akan melahirkan setelah hamil 28 hari atau 1 bulan.

5. Penyapihan kelinci
Setelah kelinci melahirkan, maka selama 45 hari kelinci itu akan disusui oleh induknya. Setelah 60 hari atau 70 hari, anakan kelinci sudah makan sendiri. Jadi kalau kita mau menyapih kelinci, sebaiknya pada usia 60 hari atau 70 hari. Menyapih kelinci kalau di bawah usia tersebut masih rawan sakit.

6. Memahami penyaki kelinci
Ada tiga macam penyakit yang sering menghinggapi kelinci, diantaranya adalah penyakit gudik atau scabies, perut kembung, dan diare.
Itulah ada enam point yang harus diperhatikan oleh anda mengenai cara beternak kelinci bagi pemula. Semoga bisa menginspirasi!
Cara Pemasaran Hasil Ternak Kelinci
Pemasaran kelinci saat ini terbilang mudah. Kita bisa menggunakan sosial media seperti facebook, twitter, dan instagram. Pengalaman saya tentang jual dan beli kelinci di facebook. Kita tinggal posting gambar disertai keterangan di forum peternak kelinci di Facebook. Setelah beberapa saat ada orang yang komentar dan melakukan nego. Akhirnya kita deal dan kelinci saya langsung diambil oleh pembeli.

Selain media sosial, kisa bisa langsung menemui pengepul atau “bakul” kelinci. Apabila harga kelinci kita dihargai dengan harga yang cocok, bisa langsung dijual saja. Selain dari menemui pengepul, kita bisa langsung menjualnya di pasar atau di daerah yang strategis yang jalannya banyak dilalui orang.



Gambar 1,2, da 3 Kandang dan teknik ternak kelinci :)

Semoga bermanfaat :)

Tambahan :


Video 1. Pengobatan kucing lumpuh di klinik hewan happiness :)


Video 2. Pengobatan kucing mimisan pada kucing @ klinik hewan happiness :)

Terimakasih

Minggu, 22 Januari 2017

Budidaya Rusa :)

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Saat ini keberadaan rusa sambar semakin terancam. Hal tersebut dikarenakansemakin luasnya pembukaan kawasan hutan menjadi non-hutan yang menyebabkan habitat rusa sambar semakin terdesak, selain itu perburuan liar yang terus berlangsung semakin mempercepat penurunan populasi rusa sambar di habitat alaminya. Dalam upaya untuk mengurangi tekanan-tekanan terhadap kehidupan rusa sambar di alam, terutama akibat perburuan liar maka perlu ditingkatkan kegiatan-kegiatan konservasi ex-situ yang salah satu diantaranya melalui kegiatan penangkaran rusa sambar.
Seperti dalam Undang-undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati Dan Ekosistemnya menyebutkan bahwa pemanfaatan hidupan liar dimungkinkan dilakukan baik dalam bentuk pengkajian, penelitian dan pengembangan, penangkaran, perburuan, perdagangan, peragaan, pertukaran, budidaya tanaman obat-obatan atau pemeliharaan untuk kesenangan. Penangkaran Rusa merupakan awal dari usaha pemanfaatan secara menyeluruh, sebelum berkembang lebih lanjut ke arah peternakan.
Di masyarakat umum sumber daging masih terbatas dari ternak-ternakkonvensional misalnya sapi, kerbau, kambing, domba dan unggas. Padahal Indonesiamempunyai potensi sumber daging yang sangat besar yang belum dikembangkan secarakomersil, diantaranya adalah Rusa Sambar. Saat ini daging rusa banyak diminati olehmasyarakat. Sedangkan satu-satunya institusi yang bertugas untuk melaksanakanpenangkaran rusa sambar yaitu UPTD Dinas Peternakan Provinsi Kalimantan Timur diApi-api sampai saat ini belum memanfaatkan daging rusa sebagai sumber protein hewani.Sehingga pasokan daging rusa yang ada di masyarakat berasal dari kegiatan perburuan liar. Untuk itu perlu adanya informasi tentang prospek pengembangan rusa sambar dan potensi yang ada di dalamnya, sehingga diaharapkan banyak pihak yang tergerak untukmenyelamatkan rusa sambar dari kepunahan melalui kegiatan pemanfaatan secara lestari.

ISI
1.        Asal-Usul Ternak Rusa
Jenis rusa yang asli Indonesia ini, bersama anggota genus Muntiacus lainnya, dipercaya sebagai jenis rusa tertua. Kijang berasal dari Dunia Lama dan telah ada sejak 15 – 35 juta tahun yang silam.
Rusa jantan mempunyai ranggah (tanduk) yang pendek, tidak melebihi setengah dari panjang kepala dan bercabang dua serta gigi taring yang keluar. Kijang atau menjangan (Muntiacus muntjak) merupakan binatang soliter. Kijang jantan menandai wilayahnya dengan menggosokkan kelenjar frontal preorbital yang terdapat di kepala mereka di tanah dan pepohonan. Selain itu kijang jantan juga menggoreskan kuku ke tanah atau menggores kulit pohon dengan gigi sebagai penanda kawasan. Jenis rusa asli Indonesia ini biasanya aktif di malam hari meskipun sering kali tetap melakukan aktifitas di siang hari. Makanan utamanya adalah daun-daun muda, rumput, buah, dan akar tanaman. Kijang merupakan binatang poligami. Jenis rusa ini tidak memiliki musim kawin tertentu sehingga perkawinan terjadi sepanjang tahun. Kijang betina dapat melahirkan sepanjang tahun dengan usia kehamilan berkisar 6-7 bulan. Dalam sekali masa kehamilan, kijang melahirkan 1-2 ekor anak.

2.        Jenis-Jenis Ternak Rusa
1.        Rusa sambar
Rusa sambar (disebut juga rusa sambursambhurTamilKadaththi man), adalah jenis rusa besar yang umum berhabitat di Asia. Spesies yang umum memiliki ciri khas tubuh yang besar dengan warna bulu kecoklatan. Sambar dapat tumbuh setinggi 102 cm - 160 cm sampai bahu dengan berat sekitar 546 kg. Sambar umumnya berhabitat di hutan dan bergantung pada tanaman semak atau rerumputan. Mereka umumnya hidup dalam kelompok dengan anggota 5 - 6 anggota banyak terdapat di Pulau Sumatera danKalimantan di Indonesia.
2.        Rusa bawean
Rusa bawean (Axis kuhlii) adalah sejenis rusa yang saat ini hanya ditemukan di Pulau Bawean di tengah Laut Jawa, Secara administratif pulau ini termasuk dalam Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa TimurIndonesia.
3.        Cervus timorensis
Jenis Cervus timorensis, memiliki bulu coklat dengan warna bagian bawah perut dan ekor berwarna putih. Hewan jantan relatif lebih besar dibandingkan dengan betinanya. Tinggi badannya antara 91-102 cm dengan berat badan 103-155 kg, lebih kecil bila dibandingkan dengan Sambar (Cervus unicolor). Rusa jantan mempunyai tanduk yang bercabang. Tanduk akan tumbuh pertama kali pada anak jantan umur 8 bulan. Setelah dewasa, ranggah menjadi sempurna yang ditandai dengan terdapatnya 3 ujung runcing.
4.        Kijang atau muncak
Kijang atau muncak adalah kerabat rusa yang tergabung dalam genus Muntiacus. Kijang berasal dari Dunia Lama dan dianggap sebagai jenis rusa tertua, telah ada sejak 15-35 juta tahun yang lalu, dengan sisa-sisa dari masa Miosen ditemukan di Perancis dan Jerman.
Kijang tidak mengenal musim kawin dan dapat kawin kapan saja, namun perilaku musim kawin muncul bila kijang dibawa ke daerah beriklim sedang. Jantannya memiliki tandukpendek yang dapat tumbuh bila patah.
5.        Rusa totol
Rusa totol (Axis axis) merupakan hewan herbivora yang menyukai segala jenis tumbuhan terutama rumput dan dedaunan. Rusa totol dewasa (pubertas) pada umur 10-15 bulan (rusa betina) dan pada jantan pada umur 12-16 bulan (pada jantan). Seekor rusa betina akan bunting selama 234 hari, dan mempunyai jarak antar kelahiran sekitar 275 hari. Usia rusa yang menjadi ikon Istana Bogor ini berkisar antara 20-30 tahun.

3.        Sistem Perkawinan Ternak Rusa
Reproduksi adalah suatu proses biologi yang terjadi antara jantan dan betina dengan tujuan membentuk satu individu baru di dalam kehidupannya. Perbandingan yang ideal di dalam suatu penangkaran adalah 1 : 4 atau 5 yaitu 1 individu jantan dan 4 atau 5betina. Berahi menandakan bahwa betina telah mengalami dewasa kelamin dan bersediamenerima pejantan dalam perkawinan. Tanda-tanda berahi pada betina adalah nafsumakan berkurang, tidak tenang, berdiri tenang apabila dinaiki pejantan atau sesamabetina, sering kencing, mencium dan menjilat alat kelamin jantan, vulva (alat kelaminbetina paling luar) terlihat membengkak, merah, dan apabila dipegang terasa hangat.Tanda-tanda berahi pada jantan adalah sering meraung, berkubang, menancapkan ranggah ke tanah atau pohon, bahkan sering mencium dan membaui urine yang dikeluarkan rusa betina sambil menjulurkan lidah. Lama berahi pada rusa diamati mulai dari permulaan timbulnya keinginan untuk kawin hingga saat terakhir yakni 2,25 hari dengan siklusberahi 20,25 hari.
Pubertas atau dewasa kelamin pada jantan ditandai oleh kesanggupan berkopulasi(kawin) dan menghasilkan sperma, serta perubahan-perubahan kelamin sekunder lain.Pubertas pada betina ditandai oleh terjadinya estrus, ovulasi, dapat bereproduksi ataumenghasilkan keturunan walau belum mencapai ukuran bobot badan dewasa, pubertaspada rusa jantan 8 bulan dan betina 8,13 bulan. Perkawinan pertama pada rusa timor betina dara dilakukan beberapa bulan setelah mencapai dewasa kelamin (pubertas). Apabila perkawinan dilakukan pada saat pubertas, induk akan sulit melahirkan bahkan anak yang dilahirkan cenderung lemah, kurang sehat, bobot lahir rendah, dan pertumbuhan induk akan kerdil karena organorgan reproduksi belum berkembang secara sempurna. Umur yang tepat untuk mengawinkan betina dara pada rusa timor adalah 15,25 bulan dan jantan 12,67 bulan.
Rata-rata lama kawin 2,33 detik dengan frekuensi kawin 2,14 kali/hari. Permulaan pembuahan pada rusa sulit diketahui, sehingga yang dijadikan tolok ukur dalam menentukan kebuntingan adalah perilaku setelah terjadi perkawinan dimana terlihat rusa betina lebih tenang, perut sebelah kanan membesar, susu (ambing) menurun, dan selalu menolak atau menghindar apabila didekati pejantan. Rata-rata lama bunting pada rusa timor 8,38 bulan dan umur kebuntingan pertama 17,00 bulan. Aktivitas kelahiran (partus) pada rusa sama seperti halnya mamalia lainnya, terdiri dari tiga tahap yakni kontraksiuterus, pengeluaran anak (foetus), dan pengeluaran placenta. Rusa timor termasuk golongan beranak tunggal dan rata-rata umur beranak pertama 25,50 bulan dengan interval kelahiran pertama dan kedua 13,25 bulan.

4.        Manajemen dan Penangkaran Ternak Rusa
Penangkaran rusa timor tersebut menggunakan lahan seluas 7,0 ha yang terdiri dari: Sistem semi terkurung, dilakukan dalam bentuk mini ranch dengan cara memeliharapada areal yang luas (± 1,0 ha), dipagari, dan rusa dibiarkan merumput sendiri tetapikadang-kadang pakan disuplai dari luar apabila pakan di dalam areal tidak mencukupi.Sistem bebas (ranch) adalah sistem penangkaran rusa yang dilakukan secara ekstensifdalam areal yang luas dan berpagar (± 1,0 – 5,0 ha atau tergantung ketersediaan lahan dan tujuan penangkaran). Rusa dibiarkan merumput secara alami tanpa campur tangan manusia kecuali mengontrol dan mengatur daya dukung.
Pemeliharaan rusa dengan sistem ranch dan mini ranch sebaiknya memenuhikebutuhan hidup seperti habitat alamnya. Oleh sebab itu, habitat buatan dalam kandang penangkaran yang berpagar keliling dapat dilengkapi dengan areal pepohonan dan bersemak, sumber air, tempat pakan dan lapangan perumputan. Areal berpohon sangat bermanfaat untuk berlindung dan tempat tidur, sedangkan areal bersemak dapat dijadikan tempat istirahat, pengasuhan anak dan kebutuhan biologis lainnya. Jenis-jenis pohon yang ditanam mempunyai tajuk yang cukup rindang sebagai peneduh, seperti: beringin, sawo, mangga, lengkeng, dan berbagai jenis tanaman hutan lainnya. Beberapa jenis pohon sering dimakan kulitnya oleh rusa. Oleh sebab itu, pemagaran beberapa jenis pohon perlu dilakukan apabila dikuatirkan cepat rusak atau mati karena dimakan kulitnya oleh rusa.
Beberapa persyaratan yang perlu diperhatikan dalam penetapan lokasi penangkaran rusa, antara lain berada di luar kawasan suaka alam; terletak di tempat yang tenang; aman dari gangguan; mudah dicapai atau ditempuh pada musim hujan dan musimkemarau; tersedia air yang banyak sepanjang tahun untuk keperluan minum,
1. Kandang
Kandang berfungsi sebagai tempat berlindung dari hujan, panas, dan predator; tempat berteduh, beristirahat, berkembangbiak, makan dan minum; perawatan bagi yang sakit; dan untuk memudahkan dalam pengontrolan. Bahan kandang yang digunakan terdiri dari kayu, paku, besi, kawat harmonika atau ram, batako, semen, dan pasir. Tiang-tiang beton dibangun di atas pondasi dengan ukuran kandang untuk satu individu rusa dewasa adalah 2,0 m². Kandang rusa diberi pintu, agar mudah dalam penanganan untuk pemberian pakan, penangkapan untuk penimbangan, pengukuran, pemberian tanda, pemeriksaan kesehatan, atau pemberian perlakuan. Drainase pada lantai kandang dibuat agak miring dan diusahakan agar tidak becek; kandang rusa sebaiknya disekat sesuai dengan status fisiologis.
Kandang rusa terdiri dari berbagai bentuk tergantung kegunaannya, antara lainbangunan peneduh. Bangunan ini berfungsi sebagai tempat berteduh karena mempunyai atap dan dinding sehingga terhindar dari terpaan air hujan. Bangunan ini sangat diperlukan dalam penangkaran rusa yang menganut sistem terkurung (kandang). Atap bangunan terdiri dari genteng, alang-alang atau rumbia, sedang dindingnya dari tembok dengan tinggi minimal 50 cm. Bangunan berukuran 1 m² untuk satu individu rusa dewasa. Penangkaran rusa yang menggunakan sistem bebas (ranch), dapat menggunakan pohon-pohon yang rindang atau semak belukar.
Kandang pembiakan (kandang tertutup yang berukuran 6 x 2 m2 dan disekat menjaditiga ruang yakni untuk kandang kawin (2 x 3 m2), kandang melahirkan dan menyusui (2 x 1,5 m2) dan kandang sapih anak (2 x 1,5 m2),
Kandang individu dan penelitian (masing-masing berukuran 2 x 2 m),
Kandang transit (kandang terbuka seluas ± 560 m2 untuk menampung rusa yang baru datang),
Kandang pembesaran seluas ± 288 m2 yang dibagi menjadi empat sub unit masingmasing seluas ± 72 m2 untuk seleksi pasangan, pembesaran anak dan pelatihan(exercise) bagi salah satu pasangan untuk menyegarkan kondisi tubuh dari kandangpembiakan, serta isolasi untuk kasus tertentu. Kandang ini biasanya disebut yard dan sebaiknya berbentuk bulat atau melingkar yang digunakan untuk perawatan rusa, dan tempat bagi rusa yang sedang bunting atau melahirkan. Dinding kandang yard terbuat dari papan yang kuat dengan tinggi minimum 2,0 m, dan tertutup rapat agar rusa mudah diberi perlakuan tanpa menimbulkan kepanikan atau stres. Kandang berbentuk bulat agar rusa lebih mudah diberi perlakuan karena rusa akan berada di bagian tengah kandang. Namun apabila kandang berbentuk persegi, rusa cenderung lebih senang berada di sudut-sudut sehingga sulit untuk memberi perlakuan. Lantai kandang terdiri dari lantai kasar ataupaving block.
Kandang pedok atau mini ranch (kandang pemeliharaan terbuka ukuran 38 x 38 m2),pengolahan limbah (untuk mengolah dan memanfaatkan limbah pakan dan kotoran rusa, terdiri dari 2 buah masing-masing berukuran 4 x 2 x 1 m3 dan 2 x 2 x 1 m3),
Gudang pakan (bangunan permanen berukuran 8 x 6 m2 yang digunakan sebagaigudang pakan, obat-obatan dan peralatan penangkaran),
Pusat informasi (bangunan permanen berukuran 10 x 6 m untuk pusat data daninformasi penangkaran rusa serta kegiatan administrasi dan pelatihan).
2. Pagar
Pagar dibuat mengelilingi areal penangkaran dan bahannya adalah tiang pagar (besi, beton, atau pohon hidup), dan kawat (harmonika atau ram, kawat duri). Tinggi tiangpagar minimum 2,5 m dari permukaan tanah, ditanam 50 – 75 cm dengan pondasi beton dan ujung bagian atas dibengkokkan sepanjang 0,5 m dan diberi kawat duri sebanyak 3 – 4 baris. Jarak antar tiang pagar maksimal 2,0 m. Tiang pagar yang berasal dari pohon hidup, ditanam di sekitar pagar setinggi 2,5 m dari permukaan tanah dengan diameter batang minimum 10 cm dan ditanam 50 – 75 cm. Pohon hidup ditanam di antara tiang besi siku, untuk membantu penguatan pagar. Pemagaran pohon dilakukan setinggi 1-2 meter menggunakan bahan bambu, kayu atau kawat harmonika. Apabila peneduh alami dianggap kurang, peneduh buatan (shelter) dapat dibuat dengan ukuran setinggi 2 meter dari bahan yang tidak mudah rusak dengan jumlah dan penempatan peneduh yang terpisah sesuai kebutuhan.
3. Areal pengembangan pakan
Areal pengembangan pakan merupakan salah satu sarana yang sangat penting didalam penangkaran karena produktivitas dan perkembangbiakan rusa sangat tergantung oleh pakan. Oleh karena itu perlu dikelola secara intensif untuk menjaga kualitas dan kuantitas jenis pakan. Jenis pakan yang ditanam disesuaikan dengan jenis-jenis yang disukai rusa, tahan terhadap kekeringan yang terdiri dari jenis rumput (poaceae) danleguminosae. Pakan rusa berupa hijauan, baik jenis rumput, rambatan maupun dedaunan, dan pakan tambahan (konsentrat). Pakan hijauan rumput antara lain rumput gajah, rumput raja, rumput setaria, sorghum, dan rumput lapangan seperti kolonjono, rumput pait,a’awian, gewor, bayondah, dan padi-padian. Pakan hijauan rambatan dan dedaunan,antara lain mikania, kangkung, daun ubi, daun kacang, kaliandra, daun jagung, daunnangka, daun jati, daun lamtoro, daun turi, daun beringin, daun Acacia l., daunmangkokan, daun nampong, dan daun gamal. Jenis pakan tambahan berupa dedak, kulit kacang, bungkil kelapa, kulit pisang, ubi, jagung dan kulitnya, wortel, pellet ternak Selain itu, diberikan pula vitamin organik, obat-obatan, dan pupuk organik. Pengadaan bahan tersebut digunakan untuk memacu pertumbuhan dan reproduksi rusa. Pakan diberikan 2 atau 3 kali sehari, terutama pagi dan sore hari, dengan rata-rata persentase kebutuhan pakan segar berdasarkan bobot badan (BB) rusa masing masing sebesar 28,70% - 18,75% (umur kurang dari 12 bulan), kemudian semakin menurun menjadi 19,60% - 13,91% (umur 12 - 24 bulan) dan 12,32% - 10,93% (umur 24–36 bulan). Waktu pemberian pakan terbanyak adalah pada sore hari
4. Tempat makan
Tempat makan yang biasa digunakan berbentuk palungan berukuran panjang 1,5 – 2,0 m dan lebar 0,5 m atau berbentuk bulat segi enam berukuran diameter 50 – 75 cmdengan tinggi 30 cm dari atas permukaan tanah. Bahan yang digunakan terdiri dari papan, kayu, atau seng polos atau licin. Tempat makan diletakkan di tengah atau di sudut kandang dan diusahakan setiap kandang terdapat satu buah tempat makan. Tempat pakan harus mudah dijangkau petugas yang memberi pakan, tetapi penempatannya memungkinkan bagi rusa memakan dari segala arah. Tempat pakan diberi peneduh untuk menghindari pakan mudah kering karena kepanasan atau basah karena kehujanan. Apabila jumlah rusa yang ditangkar cukup banyak dalam satu areal penangkaran, tempat pakan dapat dibuat di beberapa tempat agar tidak terjadi persaingan makanan antara individu rusa. Ukuran tempat pakan yang disesuaikan dengan jumlah rusa yang dipelihara. Lantai tempat pakan dapat dibuat dari semen atau papan. Bentuk tempat pakan yang dibuat panggung akan mengurangi sisa pakan yang terbuang karena diinjak-injak atau bercampur dengan kotoran (faeses dan urine).
5. Tempat minum
Rusa memerlukan air untuk minum, dan berkubang sehingga sebaiknya selalu bersih dan sering diganti. Pada musim kawin, rusa jantan sangat menyenangi air sebagaitempat berkubang. Tempat minum yang digunakan berbentuk kolam dilengkapi dengan pembuangan untuk menghindari rusa jantan yang sering menanduk terutama apabila memasuki musim kawin. Letak tempat minum berada di tengah atau di sudut kandang dan setiap kandang diusahakan terdapat satu tempat minum.
6. Jalan kontrol
Jalan kontrol berfungsi untuk pengontrolan dan pemberian pakan dengan lebar jalan 1,5 – 2,0 m dan sebaiknya terletak di sepanjang pinggiran kandang atau pagar.
7. Saluran air
Air diperlukan untuk mengairi pakan, pemeliharaan kandang dan rusa. Penangkaran sebaiknya mempunyai bak penampung dan menara air lengkap dengan generator. Saluran air perlu dibersihkan setiap hari agar tidak tergenang dan menimbulkan bau yang kurang sedap, serta sebaiknya dibuat agak miring menuju tempat pembuangan.
8. Gudang dan peralatan
Bangunan ini berfungsi untuk menyimpan peralatan dan perlengkapan penangkaran, pemeliharaan pakan (alat-alat pertanian), pakan, dan obat-obatan. Di samping itu, diperlukan pula sarana dan prasarana pendukung penangkaran berupa
sekat harmonika, sekat portable, kandang jepit, instalasi air (sumur, menara air, tanki air, pipa saluran), instalasi listrik (pemasangan listrik PLN 3.500 VA, tiang dan kabel, lampu penerangan, gardu meteran), dan pos jaga.

5. Teknik Pemeliharaan Ternak Rusa
A. Pemeliharaan Rusa
Pemeliharaan rusa terdiri dari pengelompokan rusa, penyapihan anak, kesehatan, dan penandaan atau pemberian nomor (tagging).
1. Pengelompokkan rusa
Rusa dikelompokkan berdasarkan status fisiologi yakni jantan dan betina yang telah siap kawin, jantan yang belum siap kawin (baru disapih), betina yang belum siap kawin (baru disapih), betina yang sedang bunting, betina yang melahirkan, dan rusa yang sakit. Pengelompokan tersebut bermanfaat untuk memudahkan dalam pemberian pakan sesuai kebutuhan, memudahkan dalam pengaturan perkawinan, menjaga pejantan agar tidak mengganggu rusa yang lain, keamanan bagi induk yang bunting dalam proses kelahiran, ketenangan bagi induk yang menyusui dalam merawat anak, menghindari perkawinan sebelum waktunya, memperoleh kesempatan makan bagi rusa yang baru disapih, dan memudahkan penanganan bagi rusa yang sakit
2. Penyapihan rusa
Penyapihan adalah induk betina bersatu dengan anaknya sampai berumur 4 bulan,agar anak rusa mendapat air susu lebih banyak. Penyapihan sebelum berumur 4 bulan, misalnya ditinggal mati oleh induk, diperlukan penambahan air susu dari luar dengan menggunakan dot atau sendok.
3. Kesehatan
Kesehatan rusa perlu diperhatikan agar produktivitas semakin meningkat. Kematian dalam penangkaran rusa lebih banyak terjadi pada musim hujan dan penyakit yang sering menyerang adalah pneumonia (radang paru-paru) karena kandang yang becekdan lembab. Kematian pada rusa dewasa lebih banyak disebabkan oleh faktor makanan, lingkungan, dan stres akibat penanganan. Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit pada rusa timor, dilakukan dengan beberapa cara, antara lain sanitasi lingkungan kandang, pemberian pakan yang memenuhi standar gizi, memperbaiki teknik penanganan, dan vaksinasi, serta pemberian obat sesuai jenis penyakit dan anjuran medis.
4. Penandaan (tagging)
Penandaan (tagging) pada rusa merupakan hal penting dalam manajemenpenangkaran. Penandaan sebaiknya dilakukan sebelum anak rusa disapih dan tujuannya adalah untuk mengetahui silsilah (pedigree), umur, memudahkan dalam
pengontrolan, memudahkan dalam pengenalan individu, dan untuk memudahkan
pengaturan perkawinan. Cara pemberian nomor pada rusa timor di penangkaran
B. Pemeliharaan Pagar dan Kandang
Pemeliharaan pagar dan kandang dilakukan secara teratur agar rusa tidak ke luarkandang karena kerusakan pagar. Kerusakan pagar lebih sering terjadi pada saat musim kawin karena pada saat itu, ranggahnya gatal sehingga kawat adalah salah satu sasaran yang ditanduk. Lingkungan dan sanitasi dalam kandang harus tetap terjaga agar tidak lembab terutama pada saat musim hujan. Pemeliharaan kandang dilakukan dengan cara pembersihan setiap pagi hari sebelum pemberian pakan sehingga rusa dapat mengkonsumsi pakan dalam kondisi bersih dan kesehatanpun terjamin. Pencarian dan pengambilan pakan dilakukan pada kebun pakan yang telah dikelola dan juga berasal dari lingkungan sekitar HP Dramaga. Alokasi tenaga kerja yang digunakan untuk pemeliharaan kandang, pencarian, pengambilan dan pemberian pakan, pengolahan kebun pakan, pengolahan limbah penangkaran dan lingkungan sekitar serta pengamanan rusa dilakukan selama 24 jam secara bergantian.
C. Pemeliharaan Pakan
Pemeliharaan pakan dilakukan agar memperoleh pakan yang baik dan selalu tersedia secara kontinyu sepanjang musim, dengan cara pembersihan, pengolahan tanah,pemupukan, pendangiran, dan penyiraman. Pembersihan rumput liar dan pendangirandilakukan tiga bulan sekali sedang pengolahan tanah dan pemupukan setahun sekali.
D. Teknik Pemberian Pakan
Pemberian pakan segar pada rusa timor didasarkan pada perhitungan 10% x bobotbadan x 2. Maksud dikalikan dua yakni diperhitungkan dengan jumlah hijauan yang tidak dimakan karena sudah tua, tidak disenangi, kotor karena terinjak-injak, dan telahbercampur dengan urine dan faeces. Pemberian pakan selalu disertai dengan pemberian garam sebagai perangsang nafsu makan dan untuk memenuhi kebutuhan mineral. Pemberian pakan dilakukan dengan cara pengaritan dimana hijauan dipotong 3-5 cm lalu diberikan pada rusa dalam kandang, baik musim hujan maupun musim kemarau. Frekuensi pemberian pakan sebanyak 2 atau 3 kali sehari (pagi, siang, dan sore) sedang pemberian pakan tambahan berupa dedak padi diberikan tiga kali dalam seminggu, sebanyak 0,5 kg/individu. Pemberian pakan pada rusa bunting, harus lebih intensif baik kualitas maupun kuantitas karena peranan makanan sangat penting untuk pertumbuhan janin di dalam rahim dan juga berguna untuk mempertahankan kondisi tubuh induk. Sedang pemberian pakan pada anak rusa, dimulai pada umur dua minggu dengan cara memberikan hijauan muda (pucuk) yang dipotong kecil-kecil. Selain itu, dilakukan pula pemberian vitamin organik, obat-obatan, dan pupuk organik untuk memacu pertumbuhan dan reproduksi rusa, serta mengurangi bau kotoran.

6.  Pemanfaatan Ternak Rusa
Dalam mendukung perlindungan dan pemanfaatan rusa sambar secara lestari makaMenteri Pertanian mengeluarkan Surat Keputusan nomor 362/kpts/TN, 120/5/1990 padatanggal 20 Mei 1990 yang isinya diantaranya memasukkan rusa sebagai kelompok anekaternak yang dapat dibudidayakan sebagaimana ternak lainnya, termasuk juga tentangpengaturan ijin usahanya (Jacoeb, 1994). Dalam hal pemanfaatannya hampir semua bagian dari rusa dapat dimanfaatkan. Menurut potensi pemanfaatannya, pemanfaatan rusa sambar dapat digolongkan menjadi dua, yaitu:
1. pemanfaatan langsung, meliputi
- Pemanfaatan Daging
Daging rusa merupakan komonditi yang mempunyai prospek yang baik, terutamadalam upaya memenuhi kebutuhan protein hewani bagi masyarakat. Rusa sambar sebagai penghasil daging mempunyai keunggulan komparatif dibanding dengan ternak penghasil daging lainnya. Menurut Dradjat (2002) pada tahun 1978 Yerex dan Spiers melaporkan bahwa rusa dapat menkonversi 30 kg bahan kering menjadi 3 kg daging. Satwa ini sangat efisien dalam menggunakan pakan untuk diubah menjadi daging, di Selandia Baru penggunaan pakan rusa lebih efektif 4–5 kali dibandingkan dengan ternak domba atau sapi (Jacoeb, 1994). Keunggulan lain adalah bila dibandingkan dengan daging sapi kadar proteinnya lebih tinggi dan kadar lemaknya lebih rendah. Kadar protei daging rusa 21,1 % dan daging sapi adalah 18,8 %, sedangkan kadar lemak daging rusa 7,0 % dan daging sapi 14,0 % (Putri, 2002) dengan kandungan kolesterol 58 mg/100 gram (Semiadi, 2004).Sehingga daging rusa sangat cocok bagi orang yang berpantang terhadap kolesterol.
- Pemanfaatan Ranggah Tua,
Ranggah tua yang sudah lepas dapat dijadikan bahan baku kerajianan tangansebagai hiasan dinding, hiasan meja atau diubah menjadi pernak-pernik yang menarik seperti pipa rokok atau yang lainnya.
- Ranggah muda (velvet)
Ranggah/tanduk muda rusa tumbuh dari substrat tulang rawan yang di bagianluarnya dibungkus velvet yang banyak mengandung pembuluh darah dan jaringanvaskuler dan dapat dijadikan sebagai bahan baku obat tradisional. Dalam ranggah muda rusa mengandung mineral yang tinggi dan sekitar 15 jenis asam amino, yaitu: Alanina, Arginina, Aspartat, Fenilalanina, Glisina, Glutamat, Histidina, I,leuisin, Leusina, Lisina, Methionona, Serina, Threonina, Tirosina dan Valina. Ranggah muda dapat dikembangkan menjadi emping yang merupakan irisan tipis ranggah muda yang dikeringkan, juga sebagai serbuk dalam bentuk kapsul sebagai peningkat vitalitas tubuh.
- Produk sampingan
Kulit rusa dapat digunakan sebagai bahan baku produk kerajinan dompet ikatpinggang dan jaket atau sepatu, hal itu dikarenakan kulit rusa sambar kuat dan
lentur. Jerohan rusa mempunyai peluang untuk dijadikan produk lain, diantaranya dalam bentuk soto babat rusa.
- Pemanfaatan lainnya
Pada lang kah lebih lanjut dalam penangkaran rusa pada akhirnya juga diharapkandapat menjadi breeding stock atau penghasil pejantan/induk yang berkualitas untukpengembangan rusa lebih luas.
2. Pemanfaatan secara tidak langsung
Pemeliharaan selain untuk keperluan komersil, rusa telah lama dipelihara karenapostur tubuh, corak bulunya dan keindahan ranggahnya. Seperti halnya rusa totol di Istana Kepresidenan Bogor, yang dipelihara karena keindahan bulunya yang totol-totol putih. Sedangkan rusa sambar menarik dilihat dari postur tubuhnya yang tinggi dan tegap padat dengan ranggah yang indah pada rusa jantannya. Selain itu apabila kegiatan penangkaran sudah berjalan dengan baik, sebagai upaya diversifikasi pemanfaatan dapat dikembangkan menjadi areal wisata berburu rusa sangat mungkin untuk diwujudkan.
PENUTUP
Dalam mendukung perlindungan dan pemanfaatan rusa sambar secara lestari makaMenteri Pertanian mengeluarkan Surat Keputusan nomor 362/kpts/TN, 120/5/1990 padatanggal 20 Mei 1990 yang isinya diantaranya memasukkan rusa sebagai kelompok anekaternak yang dapat dibudidayakan sebagaimana ternak lainnya, termasuk juga tentangpengaturan ijin usahanya (Jacoeb, 1994). Dalam hal pemanfaatannya hampir semua bagian dari rusa dapat dimanfaatkan.

DAFTAR PUSTAKA
Dradjat, A.S. 2002. Potensi Biologi dan Reproduksi Rusa Sebagai Hewan Ternak.Seminar Prospek Penangkaran Rusa di Indonesia. Yogyakarta.           

Jacoeb, T.N., Wiryosuhanto, S.D. 1994. Prospek Budidaya Ternak Rusa. PenerbitKanisius. Yogyakarta.

Ma’ruf, A., Atmoko, T., Syahbani, I. 2006. Teknologi pengakaran rusa sambar (Cervusunicolor) di Desa Api-api Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur.

Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi ”Teknologi untuk Kelestarian Hutan danKesejahteraan Masyarakat”. Puslitbang Hutan dan Konservasi Alam, BadanLitbang Departemen Kehutanan.

Sutedja, IGNN., Taufik, M. 1990. Mengenal Lebih Depkat Satwa yang Dilindungi.Mamalia. Biro Hubungan Masyarakat, Sekretaris Jenderal Departemen Kehutanan.

Semiadi, G. 1998. Budidaya Rusa Tropika Sebagai Hewan Ternak. Masyarakat ZoologiIndonesia. Jakarta

Semiadi, G., Nugraha, R.T.P. 2004. Panduan Pemeliharaan Rusa Tropis. Puslit BiologiLIPI. Bogor.

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi SumberDaya Alam Hayati D




Gambar 1,2 dan3 Metode Pemeliharaan Rusa :)

Semoga bermanfaat :)

Ditunggu masukan nya :)

Tambahan : 

Video 1. Kunjungan & pemeriksaan rusa di ciumbuleuit @ klinik hewan happiness :)


Video 2. Pengobatan influenza pada kucing anakan (kitten) persia :)

Terimakasih