Translate

Minggu, 22 Januari 2017

Budidaya Rusa :)

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Saat ini keberadaan rusa sambar semakin terancam. Hal tersebut dikarenakansemakin luasnya pembukaan kawasan hutan menjadi non-hutan yang menyebabkan habitat rusa sambar semakin terdesak, selain itu perburuan liar yang terus berlangsung semakin mempercepat penurunan populasi rusa sambar di habitat alaminya. Dalam upaya untuk mengurangi tekanan-tekanan terhadap kehidupan rusa sambar di alam, terutama akibat perburuan liar maka perlu ditingkatkan kegiatan-kegiatan konservasi ex-situ yang salah satu diantaranya melalui kegiatan penangkaran rusa sambar.
Seperti dalam Undang-undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati Dan Ekosistemnya menyebutkan bahwa pemanfaatan hidupan liar dimungkinkan dilakukan baik dalam bentuk pengkajian, penelitian dan pengembangan, penangkaran, perburuan, perdagangan, peragaan, pertukaran, budidaya tanaman obat-obatan atau pemeliharaan untuk kesenangan. Penangkaran Rusa merupakan awal dari usaha pemanfaatan secara menyeluruh, sebelum berkembang lebih lanjut ke arah peternakan.
Di masyarakat umum sumber daging masih terbatas dari ternak-ternakkonvensional misalnya sapi, kerbau, kambing, domba dan unggas. Padahal Indonesiamempunyai potensi sumber daging yang sangat besar yang belum dikembangkan secarakomersil, diantaranya adalah Rusa Sambar. Saat ini daging rusa banyak diminati olehmasyarakat. Sedangkan satu-satunya institusi yang bertugas untuk melaksanakanpenangkaran rusa sambar yaitu UPTD Dinas Peternakan Provinsi Kalimantan Timur diApi-api sampai saat ini belum memanfaatkan daging rusa sebagai sumber protein hewani.Sehingga pasokan daging rusa yang ada di masyarakat berasal dari kegiatan perburuan liar. Untuk itu perlu adanya informasi tentang prospek pengembangan rusa sambar dan potensi yang ada di dalamnya, sehingga diaharapkan banyak pihak yang tergerak untukmenyelamatkan rusa sambar dari kepunahan melalui kegiatan pemanfaatan secara lestari.

ISI
1.        Asal-Usul Ternak Rusa
Jenis rusa yang asli Indonesia ini, bersama anggota genus Muntiacus lainnya, dipercaya sebagai jenis rusa tertua. Kijang berasal dari Dunia Lama dan telah ada sejak 15 – 35 juta tahun yang silam.
Rusa jantan mempunyai ranggah (tanduk) yang pendek, tidak melebihi setengah dari panjang kepala dan bercabang dua serta gigi taring yang keluar. Kijang atau menjangan (Muntiacus muntjak) merupakan binatang soliter. Kijang jantan menandai wilayahnya dengan menggosokkan kelenjar frontal preorbital yang terdapat di kepala mereka di tanah dan pepohonan. Selain itu kijang jantan juga menggoreskan kuku ke tanah atau menggores kulit pohon dengan gigi sebagai penanda kawasan. Jenis rusa asli Indonesia ini biasanya aktif di malam hari meskipun sering kali tetap melakukan aktifitas di siang hari. Makanan utamanya adalah daun-daun muda, rumput, buah, dan akar tanaman. Kijang merupakan binatang poligami. Jenis rusa ini tidak memiliki musim kawin tertentu sehingga perkawinan terjadi sepanjang tahun. Kijang betina dapat melahirkan sepanjang tahun dengan usia kehamilan berkisar 6-7 bulan. Dalam sekali masa kehamilan, kijang melahirkan 1-2 ekor anak.

2.        Jenis-Jenis Ternak Rusa
1.        Rusa sambar
Rusa sambar (disebut juga rusa sambursambhurTamilKadaththi man), adalah jenis rusa besar yang umum berhabitat di Asia. Spesies yang umum memiliki ciri khas tubuh yang besar dengan warna bulu kecoklatan. Sambar dapat tumbuh setinggi 102 cm - 160 cm sampai bahu dengan berat sekitar 546 kg. Sambar umumnya berhabitat di hutan dan bergantung pada tanaman semak atau rerumputan. Mereka umumnya hidup dalam kelompok dengan anggota 5 - 6 anggota banyak terdapat di Pulau Sumatera danKalimantan di Indonesia.
2.        Rusa bawean
Rusa bawean (Axis kuhlii) adalah sejenis rusa yang saat ini hanya ditemukan di Pulau Bawean di tengah Laut Jawa, Secara administratif pulau ini termasuk dalam Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa TimurIndonesia.
3.        Cervus timorensis
Jenis Cervus timorensis, memiliki bulu coklat dengan warna bagian bawah perut dan ekor berwarna putih. Hewan jantan relatif lebih besar dibandingkan dengan betinanya. Tinggi badannya antara 91-102 cm dengan berat badan 103-155 kg, lebih kecil bila dibandingkan dengan Sambar (Cervus unicolor). Rusa jantan mempunyai tanduk yang bercabang. Tanduk akan tumbuh pertama kali pada anak jantan umur 8 bulan. Setelah dewasa, ranggah menjadi sempurna yang ditandai dengan terdapatnya 3 ujung runcing.
4.        Kijang atau muncak
Kijang atau muncak adalah kerabat rusa yang tergabung dalam genus Muntiacus. Kijang berasal dari Dunia Lama dan dianggap sebagai jenis rusa tertua, telah ada sejak 15-35 juta tahun yang lalu, dengan sisa-sisa dari masa Miosen ditemukan di Perancis dan Jerman.
Kijang tidak mengenal musim kawin dan dapat kawin kapan saja, namun perilaku musim kawin muncul bila kijang dibawa ke daerah beriklim sedang. Jantannya memiliki tandukpendek yang dapat tumbuh bila patah.
5.        Rusa totol
Rusa totol (Axis axis) merupakan hewan herbivora yang menyukai segala jenis tumbuhan terutama rumput dan dedaunan. Rusa totol dewasa (pubertas) pada umur 10-15 bulan (rusa betina) dan pada jantan pada umur 12-16 bulan (pada jantan). Seekor rusa betina akan bunting selama 234 hari, dan mempunyai jarak antar kelahiran sekitar 275 hari. Usia rusa yang menjadi ikon Istana Bogor ini berkisar antara 20-30 tahun.

3.        Sistem Perkawinan Ternak Rusa
Reproduksi adalah suatu proses biologi yang terjadi antara jantan dan betina dengan tujuan membentuk satu individu baru di dalam kehidupannya. Perbandingan yang ideal di dalam suatu penangkaran adalah 1 : 4 atau 5 yaitu 1 individu jantan dan 4 atau 5betina. Berahi menandakan bahwa betina telah mengalami dewasa kelamin dan bersediamenerima pejantan dalam perkawinan. Tanda-tanda berahi pada betina adalah nafsumakan berkurang, tidak tenang, berdiri tenang apabila dinaiki pejantan atau sesamabetina, sering kencing, mencium dan menjilat alat kelamin jantan, vulva (alat kelaminbetina paling luar) terlihat membengkak, merah, dan apabila dipegang terasa hangat.Tanda-tanda berahi pada jantan adalah sering meraung, berkubang, menancapkan ranggah ke tanah atau pohon, bahkan sering mencium dan membaui urine yang dikeluarkan rusa betina sambil menjulurkan lidah. Lama berahi pada rusa diamati mulai dari permulaan timbulnya keinginan untuk kawin hingga saat terakhir yakni 2,25 hari dengan siklusberahi 20,25 hari.
Pubertas atau dewasa kelamin pada jantan ditandai oleh kesanggupan berkopulasi(kawin) dan menghasilkan sperma, serta perubahan-perubahan kelamin sekunder lain.Pubertas pada betina ditandai oleh terjadinya estrus, ovulasi, dapat bereproduksi ataumenghasilkan keturunan walau belum mencapai ukuran bobot badan dewasa, pubertaspada rusa jantan 8 bulan dan betina 8,13 bulan. Perkawinan pertama pada rusa timor betina dara dilakukan beberapa bulan setelah mencapai dewasa kelamin (pubertas). Apabila perkawinan dilakukan pada saat pubertas, induk akan sulit melahirkan bahkan anak yang dilahirkan cenderung lemah, kurang sehat, bobot lahir rendah, dan pertumbuhan induk akan kerdil karena organorgan reproduksi belum berkembang secara sempurna. Umur yang tepat untuk mengawinkan betina dara pada rusa timor adalah 15,25 bulan dan jantan 12,67 bulan.
Rata-rata lama kawin 2,33 detik dengan frekuensi kawin 2,14 kali/hari. Permulaan pembuahan pada rusa sulit diketahui, sehingga yang dijadikan tolok ukur dalam menentukan kebuntingan adalah perilaku setelah terjadi perkawinan dimana terlihat rusa betina lebih tenang, perut sebelah kanan membesar, susu (ambing) menurun, dan selalu menolak atau menghindar apabila didekati pejantan. Rata-rata lama bunting pada rusa timor 8,38 bulan dan umur kebuntingan pertama 17,00 bulan. Aktivitas kelahiran (partus) pada rusa sama seperti halnya mamalia lainnya, terdiri dari tiga tahap yakni kontraksiuterus, pengeluaran anak (foetus), dan pengeluaran placenta. Rusa timor termasuk golongan beranak tunggal dan rata-rata umur beranak pertama 25,50 bulan dengan interval kelahiran pertama dan kedua 13,25 bulan.

4.        Manajemen dan Penangkaran Ternak Rusa
Penangkaran rusa timor tersebut menggunakan lahan seluas 7,0 ha yang terdiri dari: Sistem semi terkurung, dilakukan dalam bentuk mini ranch dengan cara memeliharapada areal yang luas (± 1,0 ha), dipagari, dan rusa dibiarkan merumput sendiri tetapikadang-kadang pakan disuplai dari luar apabila pakan di dalam areal tidak mencukupi.Sistem bebas (ranch) adalah sistem penangkaran rusa yang dilakukan secara ekstensifdalam areal yang luas dan berpagar (± 1,0 – 5,0 ha atau tergantung ketersediaan lahan dan tujuan penangkaran). Rusa dibiarkan merumput secara alami tanpa campur tangan manusia kecuali mengontrol dan mengatur daya dukung.
Pemeliharaan rusa dengan sistem ranch dan mini ranch sebaiknya memenuhikebutuhan hidup seperti habitat alamnya. Oleh sebab itu, habitat buatan dalam kandang penangkaran yang berpagar keliling dapat dilengkapi dengan areal pepohonan dan bersemak, sumber air, tempat pakan dan lapangan perumputan. Areal berpohon sangat bermanfaat untuk berlindung dan tempat tidur, sedangkan areal bersemak dapat dijadikan tempat istirahat, pengasuhan anak dan kebutuhan biologis lainnya. Jenis-jenis pohon yang ditanam mempunyai tajuk yang cukup rindang sebagai peneduh, seperti: beringin, sawo, mangga, lengkeng, dan berbagai jenis tanaman hutan lainnya. Beberapa jenis pohon sering dimakan kulitnya oleh rusa. Oleh sebab itu, pemagaran beberapa jenis pohon perlu dilakukan apabila dikuatirkan cepat rusak atau mati karena dimakan kulitnya oleh rusa.
Beberapa persyaratan yang perlu diperhatikan dalam penetapan lokasi penangkaran rusa, antara lain berada di luar kawasan suaka alam; terletak di tempat yang tenang; aman dari gangguan; mudah dicapai atau ditempuh pada musim hujan dan musimkemarau; tersedia air yang banyak sepanjang tahun untuk keperluan minum,
1. Kandang
Kandang berfungsi sebagai tempat berlindung dari hujan, panas, dan predator; tempat berteduh, beristirahat, berkembangbiak, makan dan minum; perawatan bagi yang sakit; dan untuk memudahkan dalam pengontrolan. Bahan kandang yang digunakan terdiri dari kayu, paku, besi, kawat harmonika atau ram, batako, semen, dan pasir. Tiang-tiang beton dibangun di atas pondasi dengan ukuran kandang untuk satu individu rusa dewasa adalah 2,0 m². Kandang rusa diberi pintu, agar mudah dalam penanganan untuk pemberian pakan, penangkapan untuk penimbangan, pengukuran, pemberian tanda, pemeriksaan kesehatan, atau pemberian perlakuan. Drainase pada lantai kandang dibuat agak miring dan diusahakan agar tidak becek; kandang rusa sebaiknya disekat sesuai dengan status fisiologis.
Kandang rusa terdiri dari berbagai bentuk tergantung kegunaannya, antara lainbangunan peneduh. Bangunan ini berfungsi sebagai tempat berteduh karena mempunyai atap dan dinding sehingga terhindar dari terpaan air hujan. Bangunan ini sangat diperlukan dalam penangkaran rusa yang menganut sistem terkurung (kandang). Atap bangunan terdiri dari genteng, alang-alang atau rumbia, sedang dindingnya dari tembok dengan tinggi minimal 50 cm. Bangunan berukuran 1 m² untuk satu individu rusa dewasa. Penangkaran rusa yang menggunakan sistem bebas (ranch), dapat menggunakan pohon-pohon yang rindang atau semak belukar.
Kandang pembiakan (kandang tertutup yang berukuran 6 x 2 m2 dan disekat menjaditiga ruang yakni untuk kandang kawin (2 x 3 m2), kandang melahirkan dan menyusui (2 x 1,5 m2) dan kandang sapih anak (2 x 1,5 m2),
Kandang individu dan penelitian (masing-masing berukuran 2 x 2 m),
Kandang transit (kandang terbuka seluas ± 560 m2 untuk menampung rusa yang baru datang),
Kandang pembesaran seluas ± 288 m2 yang dibagi menjadi empat sub unit masingmasing seluas ± 72 m2 untuk seleksi pasangan, pembesaran anak dan pelatihan(exercise) bagi salah satu pasangan untuk menyegarkan kondisi tubuh dari kandangpembiakan, serta isolasi untuk kasus tertentu. Kandang ini biasanya disebut yard dan sebaiknya berbentuk bulat atau melingkar yang digunakan untuk perawatan rusa, dan tempat bagi rusa yang sedang bunting atau melahirkan. Dinding kandang yard terbuat dari papan yang kuat dengan tinggi minimum 2,0 m, dan tertutup rapat agar rusa mudah diberi perlakuan tanpa menimbulkan kepanikan atau stres. Kandang berbentuk bulat agar rusa lebih mudah diberi perlakuan karena rusa akan berada di bagian tengah kandang. Namun apabila kandang berbentuk persegi, rusa cenderung lebih senang berada di sudut-sudut sehingga sulit untuk memberi perlakuan. Lantai kandang terdiri dari lantai kasar ataupaving block.
Kandang pedok atau mini ranch (kandang pemeliharaan terbuka ukuran 38 x 38 m2),pengolahan limbah (untuk mengolah dan memanfaatkan limbah pakan dan kotoran rusa, terdiri dari 2 buah masing-masing berukuran 4 x 2 x 1 m3 dan 2 x 2 x 1 m3),
Gudang pakan (bangunan permanen berukuran 8 x 6 m2 yang digunakan sebagaigudang pakan, obat-obatan dan peralatan penangkaran),
Pusat informasi (bangunan permanen berukuran 10 x 6 m untuk pusat data daninformasi penangkaran rusa serta kegiatan administrasi dan pelatihan).
2. Pagar
Pagar dibuat mengelilingi areal penangkaran dan bahannya adalah tiang pagar (besi, beton, atau pohon hidup), dan kawat (harmonika atau ram, kawat duri). Tinggi tiangpagar minimum 2,5 m dari permukaan tanah, ditanam 50 – 75 cm dengan pondasi beton dan ujung bagian atas dibengkokkan sepanjang 0,5 m dan diberi kawat duri sebanyak 3 – 4 baris. Jarak antar tiang pagar maksimal 2,0 m. Tiang pagar yang berasal dari pohon hidup, ditanam di sekitar pagar setinggi 2,5 m dari permukaan tanah dengan diameter batang minimum 10 cm dan ditanam 50 – 75 cm. Pohon hidup ditanam di antara tiang besi siku, untuk membantu penguatan pagar. Pemagaran pohon dilakukan setinggi 1-2 meter menggunakan bahan bambu, kayu atau kawat harmonika. Apabila peneduh alami dianggap kurang, peneduh buatan (shelter) dapat dibuat dengan ukuran setinggi 2 meter dari bahan yang tidak mudah rusak dengan jumlah dan penempatan peneduh yang terpisah sesuai kebutuhan.
3. Areal pengembangan pakan
Areal pengembangan pakan merupakan salah satu sarana yang sangat penting didalam penangkaran karena produktivitas dan perkembangbiakan rusa sangat tergantung oleh pakan. Oleh karena itu perlu dikelola secara intensif untuk menjaga kualitas dan kuantitas jenis pakan. Jenis pakan yang ditanam disesuaikan dengan jenis-jenis yang disukai rusa, tahan terhadap kekeringan yang terdiri dari jenis rumput (poaceae) danleguminosae. Pakan rusa berupa hijauan, baik jenis rumput, rambatan maupun dedaunan, dan pakan tambahan (konsentrat). Pakan hijauan rumput antara lain rumput gajah, rumput raja, rumput setaria, sorghum, dan rumput lapangan seperti kolonjono, rumput pait,a’awian, gewor, bayondah, dan padi-padian. Pakan hijauan rambatan dan dedaunan,antara lain mikania, kangkung, daun ubi, daun kacang, kaliandra, daun jagung, daunnangka, daun jati, daun lamtoro, daun turi, daun beringin, daun Acacia l., daunmangkokan, daun nampong, dan daun gamal. Jenis pakan tambahan berupa dedak, kulit kacang, bungkil kelapa, kulit pisang, ubi, jagung dan kulitnya, wortel, pellet ternak Selain itu, diberikan pula vitamin organik, obat-obatan, dan pupuk organik. Pengadaan bahan tersebut digunakan untuk memacu pertumbuhan dan reproduksi rusa. Pakan diberikan 2 atau 3 kali sehari, terutama pagi dan sore hari, dengan rata-rata persentase kebutuhan pakan segar berdasarkan bobot badan (BB) rusa masing masing sebesar 28,70% - 18,75% (umur kurang dari 12 bulan), kemudian semakin menurun menjadi 19,60% - 13,91% (umur 12 - 24 bulan) dan 12,32% - 10,93% (umur 24–36 bulan). Waktu pemberian pakan terbanyak adalah pada sore hari
4. Tempat makan
Tempat makan yang biasa digunakan berbentuk palungan berukuran panjang 1,5 – 2,0 m dan lebar 0,5 m atau berbentuk bulat segi enam berukuran diameter 50 – 75 cmdengan tinggi 30 cm dari atas permukaan tanah. Bahan yang digunakan terdiri dari papan, kayu, atau seng polos atau licin. Tempat makan diletakkan di tengah atau di sudut kandang dan diusahakan setiap kandang terdapat satu buah tempat makan. Tempat pakan harus mudah dijangkau petugas yang memberi pakan, tetapi penempatannya memungkinkan bagi rusa memakan dari segala arah. Tempat pakan diberi peneduh untuk menghindari pakan mudah kering karena kepanasan atau basah karena kehujanan. Apabila jumlah rusa yang ditangkar cukup banyak dalam satu areal penangkaran, tempat pakan dapat dibuat di beberapa tempat agar tidak terjadi persaingan makanan antara individu rusa. Ukuran tempat pakan yang disesuaikan dengan jumlah rusa yang dipelihara. Lantai tempat pakan dapat dibuat dari semen atau papan. Bentuk tempat pakan yang dibuat panggung akan mengurangi sisa pakan yang terbuang karena diinjak-injak atau bercampur dengan kotoran (faeses dan urine).
5. Tempat minum
Rusa memerlukan air untuk minum, dan berkubang sehingga sebaiknya selalu bersih dan sering diganti. Pada musim kawin, rusa jantan sangat menyenangi air sebagaitempat berkubang. Tempat minum yang digunakan berbentuk kolam dilengkapi dengan pembuangan untuk menghindari rusa jantan yang sering menanduk terutama apabila memasuki musim kawin. Letak tempat minum berada di tengah atau di sudut kandang dan setiap kandang diusahakan terdapat satu tempat minum.
6. Jalan kontrol
Jalan kontrol berfungsi untuk pengontrolan dan pemberian pakan dengan lebar jalan 1,5 – 2,0 m dan sebaiknya terletak di sepanjang pinggiran kandang atau pagar.
7. Saluran air
Air diperlukan untuk mengairi pakan, pemeliharaan kandang dan rusa. Penangkaran sebaiknya mempunyai bak penampung dan menara air lengkap dengan generator. Saluran air perlu dibersihkan setiap hari agar tidak tergenang dan menimbulkan bau yang kurang sedap, serta sebaiknya dibuat agak miring menuju tempat pembuangan.
8. Gudang dan peralatan
Bangunan ini berfungsi untuk menyimpan peralatan dan perlengkapan penangkaran, pemeliharaan pakan (alat-alat pertanian), pakan, dan obat-obatan. Di samping itu, diperlukan pula sarana dan prasarana pendukung penangkaran berupa
sekat harmonika, sekat portable, kandang jepit, instalasi air (sumur, menara air, tanki air, pipa saluran), instalasi listrik (pemasangan listrik PLN 3.500 VA, tiang dan kabel, lampu penerangan, gardu meteran), dan pos jaga.

5. Teknik Pemeliharaan Ternak Rusa
A. Pemeliharaan Rusa
Pemeliharaan rusa terdiri dari pengelompokan rusa, penyapihan anak, kesehatan, dan penandaan atau pemberian nomor (tagging).
1. Pengelompokkan rusa
Rusa dikelompokkan berdasarkan status fisiologi yakni jantan dan betina yang telah siap kawin, jantan yang belum siap kawin (baru disapih), betina yang belum siap kawin (baru disapih), betina yang sedang bunting, betina yang melahirkan, dan rusa yang sakit. Pengelompokan tersebut bermanfaat untuk memudahkan dalam pemberian pakan sesuai kebutuhan, memudahkan dalam pengaturan perkawinan, menjaga pejantan agar tidak mengganggu rusa yang lain, keamanan bagi induk yang bunting dalam proses kelahiran, ketenangan bagi induk yang menyusui dalam merawat anak, menghindari perkawinan sebelum waktunya, memperoleh kesempatan makan bagi rusa yang baru disapih, dan memudahkan penanganan bagi rusa yang sakit
2. Penyapihan rusa
Penyapihan adalah induk betina bersatu dengan anaknya sampai berumur 4 bulan,agar anak rusa mendapat air susu lebih banyak. Penyapihan sebelum berumur 4 bulan, misalnya ditinggal mati oleh induk, diperlukan penambahan air susu dari luar dengan menggunakan dot atau sendok.
3. Kesehatan
Kesehatan rusa perlu diperhatikan agar produktivitas semakin meningkat. Kematian dalam penangkaran rusa lebih banyak terjadi pada musim hujan dan penyakit yang sering menyerang adalah pneumonia (radang paru-paru) karena kandang yang becekdan lembab. Kematian pada rusa dewasa lebih banyak disebabkan oleh faktor makanan, lingkungan, dan stres akibat penanganan. Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit pada rusa timor, dilakukan dengan beberapa cara, antara lain sanitasi lingkungan kandang, pemberian pakan yang memenuhi standar gizi, memperbaiki teknik penanganan, dan vaksinasi, serta pemberian obat sesuai jenis penyakit dan anjuran medis.
4. Penandaan (tagging)
Penandaan (tagging) pada rusa merupakan hal penting dalam manajemenpenangkaran. Penandaan sebaiknya dilakukan sebelum anak rusa disapih dan tujuannya adalah untuk mengetahui silsilah (pedigree), umur, memudahkan dalam
pengontrolan, memudahkan dalam pengenalan individu, dan untuk memudahkan
pengaturan perkawinan. Cara pemberian nomor pada rusa timor di penangkaran
B. Pemeliharaan Pagar dan Kandang
Pemeliharaan pagar dan kandang dilakukan secara teratur agar rusa tidak ke luarkandang karena kerusakan pagar. Kerusakan pagar lebih sering terjadi pada saat musim kawin karena pada saat itu, ranggahnya gatal sehingga kawat adalah salah satu sasaran yang ditanduk. Lingkungan dan sanitasi dalam kandang harus tetap terjaga agar tidak lembab terutama pada saat musim hujan. Pemeliharaan kandang dilakukan dengan cara pembersihan setiap pagi hari sebelum pemberian pakan sehingga rusa dapat mengkonsumsi pakan dalam kondisi bersih dan kesehatanpun terjamin. Pencarian dan pengambilan pakan dilakukan pada kebun pakan yang telah dikelola dan juga berasal dari lingkungan sekitar HP Dramaga. Alokasi tenaga kerja yang digunakan untuk pemeliharaan kandang, pencarian, pengambilan dan pemberian pakan, pengolahan kebun pakan, pengolahan limbah penangkaran dan lingkungan sekitar serta pengamanan rusa dilakukan selama 24 jam secara bergantian.
C. Pemeliharaan Pakan
Pemeliharaan pakan dilakukan agar memperoleh pakan yang baik dan selalu tersedia secara kontinyu sepanjang musim, dengan cara pembersihan, pengolahan tanah,pemupukan, pendangiran, dan penyiraman. Pembersihan rumput liar dan pendangirandilakukan tiga bulan sekali sedang pengolahan tanah dan pemupukan setahun sekali.
D. Teknik Pemberian Pakan
Pemberian pakan segar pada rusa timor didasarkan pada perhitungan 10% x bobotbadan x 2. Maksud dikalikan dua yakni diperhitungkan dengan jumlah hijauan yang tidak dimakan karena sudah tua, tidak disenangi, kotor karena terinjak-injak, dan telahbercampur dengan urine dan faeces. Pemberian pakan selalu disertai dengan pemberian garam sebagai perangsang nafsu makan dan untuk memenuhi kebutuhan mineral. Pemberian pakan dilakukan dengan cara pengaritan dimana hijauan dipotong 3-5 cm lalu diberikan pada rusa dalam kandang, baik musim hujan maupun musim kemarau. Frekuensi pemberian pakan sebanyak 2 atau 3 kali sehari (pagi, siang, dan sore) sedang pemberian pakan tambahan berupa dedak padi diberikan tiga kali dalam seminggu, sebanyak 0,5 kg/individu. Pemberian pakan pada rusa bunting, harus lebih intensif baik kualitas maupun kuantitas karena peranan makanan sangat penting untuk pertumbuhan janin di dalam rahim dan juga berguna untuk mempertahankan kondisi tubuh induk. Sedang pemberian pakan pada anak rusa, dimulai pada umur dua minggu dengan cara memberikan hijauan muda (pucuk) yang dipotong kecil-kecil. Selain itu, dilakukan pula pemberian vitamin organik, obat-obatan, dan pupuk organik untuk memacu pertumbuhan dan reproduksi rusa, serta mengurangi bau kotoran.

6.  Pemanfaatan Ternak Rusa
Dalam mendukung perlindungan dan pemanfaatan rusa sambar secara lestari makaMenteri Pertanian mengeluarkan Surat Keputusan nomor 362/kpts/TN, 120/5/1990 padatanggal 20 Mei 1990 yang isinya diantaranya memasukkan rusa sebagai kelompok anekaternak yang dapat dibudidayakan sebagaimana ternak lainnya, termasuk juga tentangpengaturan ijin usahanya (Jacoeb, 1994). Dalam hal pemanfaatannya hampir semua bagian dari rusa dapat dimanfaatkan. Menurut potensi pemanfaatannya, pemanfaatan rusa sambar dapat digolongkan menjadi dua, yaitu:
1. pemanfaatan langsung, meliputi
- Pemanfaatan Daging
Daging rusa merupakan komonditi yang mempunyai prospek yang baik, terutamadalam upaya memenuhi kebutuhan protein hewani bagi masyarakat. Rusa sambar sebagai penghasil daging mempunyai keunggulan komparatif dibanding dengan ternak penghasil daging lainnya. Menurut Dradjat (2002) pada tahun 1978 Yerex dan Spiers melaporkan bahwa rusa dapat menkonversi 30 kg bahan kering menjadi 3 kg daging. Satwa ini sangat efisien dalam menggunakan pakan untuk diubah menjadi daging, di Selandia Baru penggunaan pakan rusa lebih efektif 4–5 kali dibandingkan dengan ternak domba atau sapi (Jacoeb, 1994). Keunggulan lain adalah bila dibandingkan dengan daging sapi kadar proteinnya lebih tinggi dan kadar lemaknya lebih rendah. Kadar protei daging rusa 21,1 % dan daging sapi adalah 18,8 %, sedangkan kadar lemak daging rusa 7,0 % dan daging sapi 14,0 % (Putri, 2002) dengan kandungan kolesterol 58 mg/100 gram (Semiadi, 2004).Sehingga daging rusa sangat cocok bagi orang yang berpantang terhadap kolesterol.
- Pemanfaatan Ranggah Tua,
Ranggah tua yang sudah lepas dapat dijadikan bahan baku kerajianan tangansebagai hiasan dinding, hiasan meja atau diubah menjadi pernak-pernik yang menarik seperti pipa rokok atau yang lainnya.
- Ranggah muda (velvet)
Ranggah/tanduk muda rusa tumbuh dari substrat tulang rawan yang di bagianluarnya dibungkus velvet yang banyak mengandung pembuluh darah dan jaringanvaskuler dan dapat dijadikan sebagai bahan baku obat tradisional. Dalam ranggah muda rusa mengandung mineral yang tinggi dan sekitar 15 jenis asam amino, yaitu: Alanina, Arginina, Aspartat, Fenilalanina, Glisina, Glutamat, Histidina, I,leuisin, Leusina, Lisina, Methionona, Serina, Threonina, Tirosina dan Valina. Ranggah muda dapat dikembangkan menjadi emping yang merupakan irisan tipis ranggah muda yang dikeringkan, juga sebagai serbuk dalam bentuk kapsul sebagai peningkat vitalitas tubuh.
- Produk sampingan
Kulit rusa dapat digunakan sebagai bahan baku produk kerajinan dompet ikatpinggang dan jaket atau sepatu, hal itu dikarenakan kulit rusa sambar kuat dan
lentur. Jerohan rusa mempunyai peluang untuk dijadikan produk lain, diantaranya dalam bentuk soto babat rusa.
- Pemanfaatan lainnya
Pada lang kah lebih lanjut dalam penangkaran rusa pada akhirnya juga diharapkandapat menjadi breeding stock atau penghasil pejantan/induk yang berkualitas untukpengembangan rusa lebih luas.
2. Pemanfaatan secara tidak langsung
Pemeliharaan selain untuk keperluan komersil, rusa telah lama dipelihara karenapostur tubuh, corak bulunya dan keindahan ranggahnya. Seperti halnya rusa totol di Istana Kepresidenan Bogor, yang dipelihara karena keindahan bulunya yang totol-totol putih. Sedangkan rusa sambar menarik dilihat dari postur tubuhnya yang tinggi dan tegap padat dengan ranggah yang indah pada rusa jantannya. Selain itu apabila kegiatan penangkaran sudah berjalan dengan baik, sebagai upaya diversifikasi pemanfaatan dapat dikembangkan menjadi areal wisata berburu rusa sangat mungkin untuk diwujudkan.
PENUTUP
Dalam mendukung perlindungan dan pemanfaatan rusa sambar secara lestari makaMenteri Pertanian mengeluarkan Surat Keputusan nomor 362/kpts/TN, 120/5/1990 padatanggal 20 Mei 1990 yang isinya diantaranya memasukkan rusa sebagai kelompok anekaternak yang dapat dibudidayakan sebagaimana ternak lainnya, termasuk juga tentangpengaturan ijin usahanya (Jacoeb, 1994). Dalam hal pemanfaatannya hampir semua bagian dari rusa dapat dimanfaatkan.

DAFTAR PUSTAKA
Dradjat, A.S. 2002. Potensi Biologi dan Reproduksi Rusa Sebagai Hewan Ternak.Seminar Prospek Penangkaran Rusa di Indonesia. Yogyakarta.           

Jacoeb, T.N., Wiryosuhanto, S.D. 1994. Prospek Budidaya Ternak Rusa. PenerbitKanisius. Yogyakarta.

Ma’ruf, A., Atmoko, T., Syahbani, I. 2006. Teknologi pengakaran rusa sambar (Cervusunicolor) di Desa Api-api Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur.

Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi ”Teknologi untuk Kelestarian Hutan danKesejahteraan Masyarakat”. Puslitbang Hutan dan Konservasi Alam, BadanLitbang Departemen Kehutanan.

Sutedja, IGNN., Taufik, M. 1990. Mengenal Lebih Depkat Satwa yang Dilindungi.Mamalia. Biro Hubungan Masyarakat, Sekretaris Jenderal Departemen Kehutanan.

Semiadi, G. 1998. Budidaya Rusa Tropika Sebagai Hewan Ternak. Masyarakat ZoologiIndonesia. Jakarta

Semiadi, G., Nugraha, R.T.P. 2004. Panduan Pemeliharaan Rusa Tropis. Puslit BiologiLIPI. Bogor.

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi SumberDaya Alam Hayati D




Gambar 1,2 dan3 Metode Pemeliharaan Rusa :)

Semoga bermanfaat :)

Ditunggu masukan nya :)

Tambahan : 

Video 1. Kunjungan & pemeriksaan rusa di ciumbuleuit @ klinik hewan happiness :)


Video 2. Pengobatan influenza pada kucing anakan (kitten) persia :)

Terimakasih

Rabu, 16 November 2016

Pengobatan Kuda :)



Penyakit merupakan salah satu faktor penyebab yang menurunkan populasi ternak kuda di Indonesia, dalam upaya peningkatan populasi kuda di Indonesia maka perlu dilakukan penerapan manajemen kesehatan pada setiap peternakan kuda. Manajemen kesehatan hewan adalah program penjagaan peternakan dari bahaya penyakit ternak serta faktor-faktor yang berpengaruh langsung maupun tidak langsung pada ternak, sehingga diperoleh hasil yang optimal. Faktor keberhasilan penerapan manajemen kesehatan hewan adalah dengan teknik dan metode pemeriksaan secara individual, seperti pemeriksaan klinis. Hasil pemeriksaan klinis dapat menentukan diagnosa suatu penyakit dan terapi yang tepat.

Secara umum, penyakit adalah gangguan kesehatan. Ditinjau dari asalnya, penyakit dapat di kelompokkan menjadi dua kategori, yaitu penyakit yang disebabkan oleh infeksi dan penyakit yang disebabkan oleh non-infeksi. Penyakit karena infeksi dapat disebabkan oleh adanya bakteri, virus dan jamur. Sementara itu, penyakit karena non-infeksi merupakan penyakit yang disebabkan oleh keadaan tubuh itu sendiri, seperti alergi dan ketidak seimbangan hormon. 



Berikut ini adalah macam-macam penyakit yang sering menyerang ternak kuda:
1. Cacingan 
Cacing gelang atau cacing putih (Ascarids) adalah cacing yang hidup pada usus halus dan merupakan parasit terbesar dalam usus tetapi cacing ini tidak menyebabkan kerusakan pada usus. Salah satu jenis cacing gelang yang sering menyerang kuda adalah Parascaris Equorum.

Gejala yang ditimbulkan adalah kondisi kuda tidak tangkas dan mudah lelah, bulu kasar, sering terjadi gangguan pencernaan menumpuk pada usus halus sehingga kuda kelihatan seperti kolik, dan cacing sewaktu-waktu bisa mengganggu hati dan paru-paru.

Pencegahan dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan, menempatkan kuda belo pada kandang atau lapangan rumput yang bersih, mengumpulkan kotoran pada tempat yang disediakan, serta menyediakan air yang bersih dan segar.

Pemeriksaan telur cacing pada feses anak kuda akan menunjukkan negatif sampai umur tiga bulan sehingga pengobatan akan dilakukan pada saat anak kuda mulai mengkomsumsi rumput dan konsentrat.

Pengobatan dianjurkan menggunakan karbon disulphida atau bisulphida. Obat cacing harus diberikan secara teratur walaupun belum menimbulkan gejala, bila gejala sudah muncul berarti kerusakan pada jaringan tubuh sudah terjadi.

2. Diare 
Diare merupakan salah satu penyakit yang disebabkan oleh adanya infeksi pada alat pencernaan. Kondisi lingkungan yang tidak kondusif menyebabkan kondisi tubuh menurun, dan suhu tubuh meningkat.

Penyebab diare yang lain adalah alas kandang yang basah dan kontaminasi feses. Diare menimbulkan gejala berupa feses encer, pinggul berlumuran kotoran, kondisi tubuh menurun, lemah, dan kehilangan selera makan. 
Description: Diare pada kuda
Pencegahan yang dapat dilakukan adalah menjaga kebersihan, mengurangi pakan yang mengandung kadar lemak tinggi dan meningkatkan kandungan serat kasar pada induk, untuk kuda belo pencegahan dilakukan dengan cara mengurangi frekuensi menyusu, yaitu menyusu secara selang-seling. Diare pada anak kuda memerlukan perhatian khusus, seperti pencucian pinggul dengan air hangat yang diikuti dengan mengolesi minyak agar tidak lecet dan iritasi.

Pengobatan dapat dilakukan dengan pemberian sulfaguanidin dan norit dengan perbandingan 1:4 untuk setiap 40 kg berat badan.

3. Influenza 
Merupakan penyakit pernafasan yang mirip dengan flu pada manusia dan disebabkan oleh salah satu dari delapan virus yang berbeda, yaitu: H2N2, H3N2, H3N2, H7N7, H9N2, H7N2, H7N3, H10N7. 
Gejalanya adalah batuk, mengeluarkan sengau dan terjadinya peningkatan temperatur yang cepat, bisa mencapai 106oF dan berlangsung selama 2-10 hari. Kuda yang terserang dianjurkan istirahat total paling tidak 30 hari. Tersedia vaksin untuk dua jenis virus guna menciptakan immunitas/ kekebalan tubuh. Pengobatan oleh dokter hewan meliputi penggunaan obat-obat antibotik dan sulfa.

Kuda yang paling peka terhadap penularan penyakit ini adalah anak kuda, terutama yang baru lahir karena kekebalan tubuh mereka cendrung rendah, apalagi anak kuda yang mendapat susu buatan. Seekor kuda yang terserang influenza harus beristirahat agar tidak bertambah parah. Peyebaran penyakit ini biasanya melalui kontak langsung dan melalui udara. Lebih banyak menyerang pada anak kuda berumur setahun atau dua tahun.

Gejala utamanya adalah demam dengan suhu 
39,5oC - 41,5oC, mata dan hidung berair, stress, pernafasan cepat, batuk yang keras, kelopak mata berwarna pink kekuningan. Pada tahap yang lebih berat akan terjadi pembengkakan pada kelanjar pangkal tenggorokan (submaxillary lymph), temperatur tubuh yang tidak stabil, hidung mengeluarkan ingus,susah bernafas.

Pencegahan penyakit ini dapat dilakukan dengan melakukan vaksinasi secara berkala. Kekebalan yang di dapat dengan vaksinasi biasanya hanya untuk jangka waktu yang pendek (sekitar 3–4 bulan) dibandingkan dengan kekebalan yang didapat secara alami. Kuda sebaiknya diberi vaksin mulai umur 8–9 bulan. Dilanjutkan setiap 3 bulan sampai berumur 3 tahun. Kekebalan alami dan pencegahan dapat dilakukan dengan perawatan yang baik dan menjauhkan kuda dari keadaan stress.jika suhu tubuh terus meningkat, sebaiknya disuntik antibiotik untuk mencegah terjadinya serangan lebih lanjut oleh bakteri yang dapat menyebabkan pneumunia. Pemeliharaan yang baik; menjaga kebersihan makanan, minuman, peralatan dan lingkungan juga dapat menghambat penyebaran influenza terhadap kuda.

4. Kolik 
Gangguan pencernaan ini disebabkan oleh makanan yang berlebihan, minuman berlebihan pada waktu panas, makanan berjamur dan bahkan oleh infestasi cacing gelang. Usus terhalang atau terjepit, dapat menimbulkan rasa sakit, sedangkan kuda sangat sensitif.

Tanda–tandanya adalah bergerak terus menerus, kesakitan, berkeringat, berguling guling dan tentu saja adanya rasa tidak nyaman. Berguling–guling yang menyebabkan terbelitnya usus, merupakan hal yang fatal. Kuda sebaiknya di ikat supaya tidak berguling-guling. Tanda–tanda lainnya adalah bibir menggulung dan kuda menolak untuk makan.

Pengobatannya adalah denggan mengajak kuda berjalan–jalan sampai dokter hewan datang. Minyak mineral sering kali di berikan melalui pipa masuk ke lambung (stomach tube) untuk menghilangkan pemadatan.

Kuda yang mengalami kolik akan merasakan tidak nyaman pada bagian perut maka kuda sering melihat kebagian perut dan menggigit bagian flank. Kuda juga cenderung gelisah serta bangun dan tidur sambil menggaruk–garuk lantai.

Pencegahan yang dapat di lakukan yaitu dengan memberikan pakan yang teratur dengan kuantitas dan kualitas yang memadai. Pemberian laxative, analgesic, sedative, obat spasmolityc, cairan terapi, pengontrolan, pemeliharaan gigi dan manajemen pemeliharaan yang baik.

Sumber:
Blakely, J and D.H.Bade. 1991. Ilmu peternakan(terjemahan). Edisi ke -4. Gadjah Mada University Press; Yogyakarta.
etd.repository.ugm.ac.id
Maswarni; Nofiar, R. 2014. Kuda: Manajemen Pemeliharaan dan Pengembangbiakan . Jakarta Timur: Penerbit Swadaya.

Semoga artikel tentang Penyakit Yang Sering Menyerang Ternak Kuda ini dapat menambah pengetahuan ataupun wawasan kita semua.


Minggu, 25 September 2016

Pengobatan penyakit ikan part I :)

Pengobatan penyakit ikan memerlukan pendekatan yang berbeda dengan penyakit hewan di darat, ikan adalah hewan poikilothermal dan sifat perilaku biologis ikan diatur secara pokok oleh temperatur air, pH air, tekanan osmosis air, dissolved gas (gas oksigen terlarut), dan faktor lingkungan lain seperti parasit & protozoa. Faktor kondisi air juga menentukan agen kausatif dapat menyebabkan penyakit di suatu populasi ikan.

Diagnosa penyakit pada ikan memerlukan beberapa tahapan, observasi (pengamatan) perilaku pada ikan seperti tidak mau makan, bernafas dengan cepat, berenang miring di permukaan, sempoyongan, menggosok gosokan tubuh pada tepi / pinggir kolam perlu diperhatikan. Selain didukung pengambilan (koleksi) sampel dan spesimen diagnostik yang tepat.

Metode kontrol penyakit pada populasi ikan, meliputi :
1.       Diagnosa penyebab penyakit
2.       Karantina dan pembatasan penyebaran ikan
3.       Pemberian obat – obatan (farmakotherapi) dan sanitasi yang baik
4.       Imunisasi (vaksinasi) ikan dari penyakit
5.       Pemutusan siklus hidup agen penyakit

6.       Pembatasan dan kontrol dari substansi asing yang membahayakan (substansi asing yang bersifat toksik)

                                                    Gambar 1. Tim klinik hewan happiness (khh) dipanggil di salah satu kediaman (rumah) di kota Bandung, mengobati ikan koi yang terinfeksi protozoa dactylogyrus, metode yang digunakan obat tetes pada luka dan dipping air

                                                     Gambar 2. Proses penetesan obat pada luka ikan
                                                             Gambar 3. Menghangatkan (meningkatkan) suhu air kolam merupakan salah satu metode mudah untuk memutus siklus hidup agen penyakit, terutama golongan protozoa :)


Ditunggu masukan dan komentarnya, untuk tulisan yang sedikit ini :). Terimakasih

Selasa, 06 September 2016

Beternak Bebek yang Baik :)

Cara berternak bebek agar cepat besar sebenarnya bukanlah hal yang sulit, juga bukan hal yang mudah, namun dengan mengetahui serta menguasai teknik penggemukan yang tepat guna, di harapkan membawa kesejahteraan peternak bebek di Indonesia. Budidaya bebek pedaging menggunakan pola organik adalah pilihan tepat untuk mempercepat pertumbuhan unggas yang di usahakan.

Langkah-Langkah Penggemukan Bebek Pedaging :

Sebelum memulai beternak bebek pedaging sebaiknya mempelajari beberapa teknik dasar penggemukan adalah sangat penting., Faktor sukses dan tidaknya dalam budidaya bebek sangat bergantung dari teknis yang dikuasai. Langkah atau cara awal budidaya bebek yang harus di perhatikan adalah sebagai berikut:

* Pemilihan bibit yang baik ( Bibit Unggul)
* Komposisi pakan yang seimbang
* Sistem kandang yang nyaman bagi ternak
* Pengendalian penyakit unggas
* Penanganan pasca panen

Cara Memilih Bibit Bebek Pedaging Yang Baik :

Proses pemilihan bibit bebek ( Itik ) unggul memiliki peran sangat penting bagi peternak bebek pedaging, untuk meraih keuntungan budidaya bebek potong sebaiknya pemilihan bibit bebek jantan. Kunci sukses budidaya bebek pedaging adalah memilih bibit ( Anak itik jantan ) karena faktor kecepatan pertumbuhan bebek jantan lebih unggul jika dibandingkan bebek betina. harga bibit bebek jantan juga lebih murah jika dibandingkan dengan bebek betina.

Komposisi Pakan Bebek Yang Seimbang:

Kecukupan pakan yang berkualitas dari segi nilai gizi akan mempercepat pertumbuhan unggas bebek lebih bongsor, sehat dan tahan penyakit. Pemberian pakan buatan sendiri (dedak / bekatul, bekicot + tepung cangkang, tepung jagung, tepung ikan, tepung bulu unggas) penggunaan dan penambahan batang pisang, daun pepaya, daun mengkudu serta sayur-sayuran sebagai penunjang serat organik lebih unggul & lebih murah jika di bandingkan dengan pakan buatan pabrikan. Faktor cuaca dan suhu tempat budidaya unggas bebek sangat berpengaruh akan keseimbangan komposisi, baik itu nilai serat, protein dan karbohidrat-nya. Pemberian suplemen sangat di perlukan untuk menjaga kesehatan dan mempercepat pertumbuhan Bebek.

Kandang Bebek Pedaging Yang Baik:


Cara membuat kandang bebek yang baik adalah berdasarkan besar dan kecilnya anggaran yang anda miliki, untuk sistem kandang bebek pedaging sebaiknya menggunakan kandang panggung dengan menghadap arah matahari terbit. Kelebihan kandang panggung adalah sangat baik untuk menjaga kebersihan dan kesehatan bebek pedaging. Namun jika anda menggunakan kandang lantai non panggung , sebaiknya penggunaan lapisan pasir, kapur dan sekam padi sangat penting , fungsi kapur adalah penting untuk menjaga PH tanah, mengendalikan penyakit serta proses penyerapan kotoran bebek lebih baik. Dengan menambahkan kapur serta sekam padi yang telah bercampur dengan kotoran bebek , setelah masa 3 - 5 tahun mempunyai manfaat besar untuk digunakan sebagai bahan pembuatan Bokashi ( Pupuk Organik) .


Semoga bermanfaat, Terimakasih :)

Selasa, 28 Juni 2016

Polemik Harga Daging Sapi :)

Saat ini masyarakat indonesia masih terus meributi soal harga daging sapi. ya, bagaimana tidak, sebelum memasuki bulan puasa. Harga daging sapi di indonesia melonjak tinggi. bahkan sampai menembus harga Rp.135.000 per kg. kenaikan harga sapi yang melonjak sempat membuat masyarakat khawatir sebab pada bulan puasa an menjelang lebaran, permintaan daging sangatlah tinggi. harga daging sapi sempat menyentuh harga Rp.120.000 per kg. pemerintah terus berupaya untuk menstabilkan kembali harga daging sapi. segala upaya telah di lakukan untuk menstabilkan kembali harga daging sapi,mengingat permintaan daging sapai menjelang lebaran sangatlah tinggi dan cendrung akan kembali naik.
Presiden Joko widodo memberikan pernyataan bahwa harga daging sapi di indonesia harus Rp.80.000 per kg. namun hal tersebut tidaklah mudah, menurut Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) butuh waktu dan proses agar harga daging sapi bisa mencapai harga Rp.80.000. salah satunya adalah dengan menyudahi rezim kuota, kemudian menggantinya dengan sistem penetapan tarif dengan menentukan batas atas harga daging sapi di pasar. karena saat ini indonesia masih sangat mengandalkan daging impor sapi. namun harga daging sapi Rp.80.000 per kg sangat besar terjadi apabila pemerintah mau untuk memotong rantai pasok distribusi daging sapi maupun pembenahan sistem importasi selama ini dari sistem kuota kepada sistem pengenaan tarif.
Saat ini harga daging sapi di indonesia masih terus menjadi polemik, kita lihat harga daging sapi di negara tetangga kita Malaysia, harga daging sapi di malaysia Rp 45 ribu-Rp 60 ribu dengan sumber yang sama. Tentu ini menjadi ironi. Melambungnya harga daging sapi di indonesia di sinyalir adanya mafia atau kartel daging sapi, sehingga membuat harga daging sapi sangatlah melambung tinggi



Senin, 07 Maret 2016

Teknik Budidaya Sapi Perah :)

Ada berbagai jenis sapi di dunia ini dan jika Anda ingin membudidayakan sapi, salah satu jenis sapi yang wajib Anda coba budidayakan adalah sapi perah. Sapi perah merupakan sapi yang dapat menghasilkan susu dalam kuantitas besar. Dengan membudidayakan sapi perah, Anda bisa memulai sebuah bisnis susu, bisnis yang sangat menjanjikan mengingat susu merupakan produk yang selalu dibutuhkan oleh orang. Jika Anda berniat membudidayakan sapi perah, berikut adalah berbagai cara beternak yang dapat Anda coba lakukan.

Seleksi Bibit Sapi Perah
Dalam pembudidayaan sapi jenis apapun, pemilihan bibit tak diragukan lagi merupakan salah satu langkah terpenting dan begitupun dengan pembudidayaan sapi perah. Bibit yang harus Anda pilih ketika hendak membudidayakan sapi perah yaitu sapi jenis Fries Holland atau sapi FH. Sapi jenis ini memiliki ciri-ciri yang meliputi kulit berwarna putih disertai dengan bercak hitam. Selain ciri-ciri yang bisa Anda lihat dari penampilan luar tersebut, ciri-ciri sapi jenis FH juga bisa Anda lihat melalui perilaku sapi dimana sapi jenis ini pejantannya biasanya agak ganas sedangkan betinyanya tenang dan sangat jinak.Ciri-ciri lain yang juga merupakan ciri utama sapi jenis ini yaitu produksi susunya yang melebihi sapi lain. Tentu saja, untuk membudidayakan sapi jenis ini, Anda harus memilih sapi yang berusia 3,5 tahun atau lebih serta sudah pernah beranak mengingat susu adalah produk utama yang Anda ingin hasilkan dari pembudidayaan sapi jenis ini.

Pembuatan Kandang Untuk Sapi Perah
Ketika hendak membudidayakan sapi perah, pembuatan kandang yang sesuai dengan sapi jenis tersebut juga merupakan salah satu cara ternak yang paling penting. Sedikit berbeda dengan pembuatan kandang untuk sapi jenis lain, pembuatan kandang sapi perah haruslah berlokasi jauh dari pemukiman. Selain itu, kandang sapi juga harus terletak paling tidak 10 meter jauhnya dari tempat tinggal Anda dan selain itu, pelataran kandang tersebut harus mendapatkan supplai sinar matahari yang memadai. Untuk sapi pejantan, kandang bisa berukuran 1,5 x 2 meter sementara untuk sapi betina, kandang bisa berukuran 1,8 x 2 meter. Selain itu, temperatur di sekitar kandang juga harus tepat yaitu yaitu sekitar 25-40ÂșC.

Pemberian Pakan Sapi Perah
Dalam pembudidayaan sapi perah, pemberian pakan yang tepat adalah sesuatu yang sangat penting dalam rangka pembesaran sapi tersebut. Pakan untuk sapi perah sendiri tidak jauh berbeda dengan pakan untuk sapi jenis lain yaitu rumput-rumputan seperti rumput raja, rumput benggala, rumput gajah, dan rumput-rumput lain. Selain rumput, kacang-kacangan seperti lamtoro, gamal, turi, serta berbagai jenis kacang-kacangan lain juga termasuk pakan yang dapat Anda berikan untuk sapi perah Anda. Tentu saja, cara budidaya sapi perah yang baik tak hanya meliputi pemberian rumput dan kacang-kacangan mengingat pemberian konsentrat seperti dedak, jagung kedelai, bungkil kelapa, dan masih banyak lagi jenis konsentrat lainnya juga tak kalah penting.

Cara Pemeliharaan Sapi Perah
Selain pemberian pakan, hal lain yang tak kalah pentingnya dalam memelihara sapi perah yaitu memastikan kalau sapi tersebut sehat. Ada berbagai teknik beternak yang dapat Anda lakukan untuk memastikan kesehatan sang sapi termasuk pemeliharaan badan serta pengecekan masa birahi serta perkembangan reproduksi sapi tersebut. Dalam membudidayakan sapi perah, pembibitan merupakan sesuatu yang harus diawasi dengan seksama mengingat hal tersebut memiliki hubungan yang erat dengan produksi susu. Tentu saja, selain memperhatikan perkembangan reproduksi, penting juga untuk selalu memberikan vitamin sapi supaya sapi perah Anda senantiasa menghasilkan susu yang berkualitas.








Semoga  bermanfaat :)

Minggu, 10 Januari 2016

MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) Peluang &Tantangan (Bidang Peternakan) :)

Mulai diberlakukannya MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) pada tanggal 31 Desember  2015 adalah gelombang kecil dalam gelombang besar bertajuk Globalisasi.  Kesepakatan   10 negara ASEAN yang diteken di Pulau Bali pada tahun 2003, berpilar pada 4 pendekatan strategis: 1. Pasar tunggal & basis produksi, 2. Wilayah ekonomi berdaya saing tinggi, 3. Kawasan pembangunan ekonomi yang seimbang, dan 4. Integrasi penuh dengan ekonomi global.

Secara singkat, MEA berisi pemberlakuan “5 (lima) arus bebas”  meliputi arus a)barang, b)jasa, c) tenaga kerja  terampil, d) modal, dan e) arus bebas investasi.

UMKM Indonesia yang bergerak di bidang peternakan perlu mampu bersaing dengan produk & jasa peternakan dari 10 negara ASEAN, persaingan dalam pasar global prinsipnya adalah tentang 2 variabel, yaitu : kualitas (mutu) & harga. Petani peternak lokal perlu mampu bersaing dalam hal kualitas (mutu) & harga jual dibandingkan dengan korporasi nasional & multinasional (MNC)

Ketahanan nasional perlu dibangun bukan hanya masalah keamanan, tetapi juga barang, jasa, modal, ideologi, dan sosial budaya. Prinsip “Negara  hadir” harus tampak dalam kehidupan masyarakat sehari-hari baik di bidang ipoleksosbudhankam.





Semoga bermanfaat :)